Tim peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) berhasil menciptakan inovasi mutakhir berupa produk pepton berbasis biomassa lokal dari larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF). Terobosan ini digadang-gadang mampu menekan angka ketergantungan Indonesia terhadap impor pepton yang selama ini membebani industri bioteknologi dalam negeri, sekaligus menawarkan solusi ramah lingkungan terhadap persoalan sampah organik.

Pepton merupakan elemen krusial yang berfungsi sebagai nutrisi pertumbuhan mikroba di berbagai laboratorium riset dan industri bioteknologi. Hingga saat ini, kebutuhan pepton nasional yang diperkirakan mencapai 13,9 juta kilogram per tahun sepenuhnya masih dipasok dari luar negeri dengan harga tinggi, berkisar antara Rp3 juta hingga Rp5 juta per kilogram. Ketergantungan komoditas inilah yang memicu tim riset ITB untuk mencari alternatif lokal yang lebih ekonomis.

Penelitian bertajuk 'Produksi Hidrolisat Protein dari Lalat Tentara Hitam sebagai Alternatif Pepton Komersial' ini dipimpin oleh Dr. Ir. Muhammad Yusuf Abduh, M.T., dari Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk SITH ITB. Proyek ilmiah yang berbasis di Laboratorium SITH ITB Kampus Jatinangor ini juga melibatkan kolaborasi aktif dengan mahasiswa dan alumni untuk mengoptimalkan potensi serangga tersebut.

Selain memangkas biaya produksi, inovasi ini mengusung konsep ekonomi sirkular yang sangat relevan dengan isu lingkungan saat ini. Larva BSF memiliki kemampuan alami dalam mengurai berbagai jenis limbah organik dengan cepat. Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai pakan larva, siklus ini tidak hanya memproduksi pepton berkualitas tinggi, tetapi juga berkontribusi langsung pada pengurangan volume sampah di lingkungan masyarakat.

Kehadiran pepton lokal yang lebih terjangkau diharapkan mampu menurunkan biaya operasional pembuatan berbagai produk berbasis mikroba, salah satunya pupuk organik cair. Pihak ITB kini menargetkan hilirisasi produk agar dapat segera diproduksi secara massal. Kerja sama dengan sektor industri dan investor sangat diharapkan untuk merealisasikan komersialisasi produk pepton serangga pertama di dunia ini.