Kolaborasi akademisi dari tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Indonesia berhasil menghadirkan solusi inovatif bagi nelayan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tim Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 memperkenalkan wadah pendingin portabel (cold storage box) berbasis Phase Change Material (PCM) dan hydrogel pack guna menjaga kesegaran hasil tangkapan laut tanpa ketergantungan pada aliran listrik penuh.

Wilayah Kepulauan Mentawai, khususnya di Desa Sigapokna, Kecamatan Mentawai Barat, menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur energi yang signifikan. Pasokan listrik di kawasan ini hanya tersedia sekitar 12 jam sehari. Selain itu, akses distribusi hasil tangkapan menuju pusat ekonomi terdekat harus ditempuh melalui jalur laut yang sangat bergantung pada cuaca, sehingga teknologi pendingin konvensional sulit diterapkan secara optimal.

Mengatasi hambatan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan Universitas Airlangga (UNAIR) merancang sistem penyimpanan termal pintar. Teknologi PCM dan hydrogel pack ini berfungsi sebagai penyimpan energi dingin. Material tersebut dibekukan terlebih dahulu saat listrik menyala, lalu secara bertahap melepaskan energi dinginnya untuk menjaga stabilitas suhu di dalam wadah selama perjalanan laut maupun saat terjadi pemadaman listrik.

Nor Basid Adiwibawa Prasetya, akademisi dari UNDIP, menjelaskan bahwa efisiensi energi menjadi kunci utama dalam merancang teknologi untuk daerah kepulauan. Menurutnya, alih-alih menggantikan peran listrik sepenuhnya, sistem ini mengoptimalkan energi listrik yang terbatas untuk "mengisi" daya dingin pada material penyimpan termal, sehingga kesegaran ikan tetap terjaga selama rantai distribusi berlangsung tanpa memerlukan suplai es batu dalam jumlah besar secara terus-menerus.

Dalam kegiatan pengabdian yang berlangsung pada pertengahan Agustus 2026 di Desa Muara Sikabaluan dan Dusun Labuan Bajau, sebanyak 60 nelayan setempat dilibatkan langsung. Para nelayan tidak hanya menerima edukasi mengenai manajemen rantai dingin perikanan, tetapi juga mempraktikkan cara pembuatan panel PCM secara mandiri guna memastikan keberlanjutan pemanfaatan teknologi ini secara praktis di lapangan.

Ketua Tim PMKI 2026, Dr. Damar Rastri Adhika dari ITB, menekankan bahwa aspek portabilitas dan kemudahan operasional menjadi prioritas utama tim. Pengujian langsung di Mentawai ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi akademik harus adaptif terhadap realitas kehidupan masyarakat kepulauan, di mana alat yang fleksibel, dapat digunakan berulang, dan efisien jauh lebih relevan dibandingkan mesin pendingin statis berkapasitas besar.