Perjuangan seorang ibu demi kesembuhan buah hatinya sering kali melampaui batas kemampuan fisik dan finansial. Hal inilah yang dialami oleh Mulyani, seorang buruh cuci asal Desa Garut, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, yang dengan tabah mendampingi putri sulungnya, Ranti, melawan penyakit epilepsi langka.
Ranti pertama kali menunjukkan gejala kejang saat berusia sembilan bulan setelah mengalami demam tinggi pasca-imunisasi. Meski sempat membaik, penyakit tersebut kembali menyerang dengan lebih hebat ketika Ranti menginjak usia 17 tahun, hingga akhirnya kondisinya kian memburuk akibat gangguan saraf otak yang melumpuhkan sebagian tubuhnya.
Keadaan kian pelik setelah suami Mulyani wafat setelah belasan tahun didera sakit kronis. Sebagai orang tua tunggal dengan penghasilan tidak menentu, Mulyani harus menempuh perjalanan melelahkan dari pelosok Banten ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dengan menggunakan sepeda pinjaman, angkutan umum, hingga kereta api.
Perjalanan panjang nan melelahkan itu kerap memicu kekambuhan epilepsi Ranti di tengah gerbong kereta akibat kelelahan fisik. Namun, secercah harapan baru muncul bagi keluarga kecil ini setelah mereka dipertemukan dengan Shelter Sehati Dompet Dhuafa yang berlokasi di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat.
Rumah singgah tersebut kini menjadi oase yang meringankan beban Mulyani, dengan menyediakan tempat istirahat yang layak, kebutuhan pangan bergizi, hingga akomodasi gratis berupa layanan taksi untuk bolak-balik ke rumah sakit. Tak hanya fasilitas fisik, tempat ini juga menyediakan dukungan moril melalui bimbingan religi dan konseling psikologis berkala bagi para pendamping pasien.