Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memperketat blokade ekonomi terhadap Iran dengan mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder kepada negara mana pun yang masih memfasilitasi transaksi dengan Teheran. Peringatan keras ini ditujukan terutama untuk memutus seluruh akses keuangan global Iran di tengah konflik bilateral kedua negara yang telah berlangsung selama hampir setengah tahun.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Washington tidak akan ragu menindak lembaga keuangan asing, termasuk perbankan di China yang menjadi pembeli terbesar minyak Iran. Meski Departemen Keuangan AS belum menetapkan sanksi sekunder secara spesifik terhadap bank-bank China, pengumuman terbaru mencantumkan pembatasan baru bagi 60 individu, entitas, dan kapal yang diduga terlibat dalam jaringan perdagangan Iran.
Langkah agresif AS ini berpotensi memicu ketegangan baru dengan Beijing, khususnya menjelang pertemuan puncak antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir September mendatang. Sanksi terhadap sektor perbankan China juga dikhawatirkan dapat mengganggu kesepakatan dagang sebelumnya terkait pasokan logam tanah jarang dan kebijakan tarif impor kedua negara raksasa ekonomi tersebut.
Selain menargetkan transaksi minyak, pemerintahan Trump kini memperluas cakupan sanksi sekunder ke lima sektor strategis ekonomi Iran, yang meliputi aset digital, emas, teknologi, penerbangan, serta pelayaran. Langkah ini juga menargetkan penutupan seluruh cabang Bank Melli Iran yang beroperasi di wilayah Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
Konflik yang berkepanjangan ini berimplikasi langsung pada lonjakan harga energi global akibat terhambatnya jalur pasokan di Selat Hormuz. Di dalam negeri AS sendiri, peningkatan biaya energi ini menjadi tantangan politik berat bagi Trump menjelang pemilu kongres, dengan tingkat kepuasan publik yang dilaporkan merosot hingga ke angka 33 persen berdasarkan survei terbaru.
Para analis menilai bahwa meskipun taktik tekanan ekonomi ini memerlukan waktu untuk menunjukkan hasil yang signifikan, opsi ini dianggap lebih minim risiko dibanding memicu perang militer terbuka. Sejak awal masa jabatan kedua Trump pada 2025, AS tercatat telah menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 1.000 entitas terafiliasi Iran dan membekukan aset kripto senilai sekitar 500 miliar dolar AS.