Ketergantungan Indonesia terhadap teknologi keamanan siber dari luar negeri dinilai masih sangat tinggi. Padahal, instansi strategis seperti lembaga pemerintahan, sektor perbankan, hingga pertahanan nasional mengelola data masyarakat dan negara yang bersifat sangat sensitif.

CEO dan Co-Founder Zentara, Regal Star, menyoroti realitas bahwa Indonesia hingga saat ini masih memposisikan diri sebagai konsumen teknologi, alih-alih menjadi produsen. Menurutnya, kesenjangan antara kebutuhan perlindungan data yang krusial dengan ketersediaan solusi berbasis riset dalam negeri menjadi celah yang harus segera diisi.

Sebagai langkah strategis, Zentara berkomitmen membangun ekosistem keamanan siber melalui pengembangan teknologi mandiri. Perusahaan mengintegrasikan layanan operasional seperti *Security Operations Center* (SOC) dan investigasi insiden dengan kegiatan riset dan pengembangan (R&D) yang dilakukan langsung di Indonesia. Pendekatan ini bertujuan agar setiap institusi tidak hanya mampu memulihkan sistem saat terjadi peretasan, tetapi juga memahami pola serangan secara mendalam.

Lebih jauh lagi, Regal berambisi membawa teknologi siber buatan anak bangsa untuk berkompetisi di kancah global, bersanding dengan perusahaan teknologi mapan dari Amerika Serikat maupun Australia. Langkah ini diharapkan mampu mengubah citra Indonesia yang selama ini hanya dikenal sebagai pengekspor komoditas, menjadi negara pengekspor inovasi teknologi bernilai tinggi.

Selain fokus pada pengembangan produk seperti *threat intelligence* dan sistem keamanan berbasis kecerdasan buatan, Zentara juga menaruh perhatian besar pada pengembangan sumber daya manusia. Mengingat tingginya biaya sertifikasi profesional di bidang siber, perusahaan aktif membangun komunitas pelatihan yang terjangkau guna mencetak lebih banyak talenta lokal yang kompeten untuk memperkuat ketahanan digital nasional.