Ancaman penyakit leptospirosis kembali membayangi masyarakat Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sebanyak 143 kasus penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus ini terjadi sepanjang periode Januari hingga Agustus, dengan enam di antaranya mengakibatkan pasien meninggal dunia.
Berdasarkan data Dinkes Bantul, sebaran kasus terbanyak teridentifikasi di tiga wilayah utama, yakni Kapanewon Bantul dengan 18 kasus, disusul Kasihan sebanyak 17 kasus, dan Pandak dengan 14 kasus. Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, menjelaskan bahwa tren penularan terbilang fluktuatif. Lonjakan tertinggi terjadi pada Maret dengan 44 kasus, sebelum melandai pada bulan-bulan berikutnya hingga mencatatkan tiga kasus pada Agustus.
Leptospirosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan dipicu oleh paparan urine hewan terinfeksi, khususnya tikus. Penularan berisiko tinggi terjadi saat lingkungan dalam kondisi lembap atau tergenang air. Bakteri ini dapat menyusup ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka maupun selaput lendir pada area mata, hidung, dan mulut.
Menanggapi situasi ini, Samsu mengimbau masyarakat untuk senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Warga disarankan segera mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun usai beraktivitas di area luar ruangan atau lokasi yang tergenang air. Pemanfaatan alat pelindung diri seperti sepatu boots karet dan sarung tangan juga sangat krusial saat membersihkan saluran air, kebun, maupun area kandang hewan.
Selain menjaga kebersihan pribadi, sanitasi lingkungan menjadi kunci utama untuk menekan populasi tikus. Samsu mengingatkan pentingnya mengelola sampah secara tertutup, menguras tempat penyimpanan air, merapikan tumpukan barang bekas, serta menutup rapat sajian makanan. Bagi warga yang mengalami gejala seperti demam mendadak, nyeri otot betis, sakit kepala, atau mata memerah, ia meminta agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.