Jakarta — Universitas Nasional (UNAS) mengambil langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak inovasi dengan mendirikan Center for Intelligent Productivity and Innovation (CIPI). Pusat studi yang berfokus pada kecerdasan, produktivitas, dan inovasi ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara hasil penelitian akademik dan kebutuhan riil dunia industri serta masyarakat luas.
Pendirian CIPI dikukuhkan melalui Surat Keputusan Rektor UNAS Nomor 110 Tahun 2026. Sementara itu, melalui SK Rektor Nomor 111 Tahun 2026, Dr. H. Benrahman, B.Sc., S.Kom., M.M.S.I., CPS., ditunjuk untuk memimpin pusat studi baru tersebut. Langkah ini mencerminkan keseriusan UNAS dalam membangun ekosistem riset dan inovasi lintas disiplin ilmu secara terstruktur.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada Tim Humas UNAS pada Kamis (25/6/2026), Benrahman mengungkapkan bahwa pembentukan CIPI didasari oleh realita bahwa banyak hasil penelitian di perguruan tinggi hanya berakhir sebagai publikasi di jurnal ilmiah. Padahal, menurutnya, riset-riset tersebut menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk atau teknologi yang berdaya guna tinggi.
"CIPI hadir sebagai penghubung antara kampus, dunia industri, dan masyarakat. Kami ingin mendorong produktivitas melalui kolaborasi sehingga ilmu pengetahuan benar-benar menghasilkan dampak," tegas Benrahman.
Salah satu fokus utama CIPI adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di berbagai sektor. Pusat studi ini akan menyelenggarakan berbagai program pelatihan, lokakarya, hingga pengembangan AI Agent yang melibatkan seluruh fakultas di lingkungan UNAS. Pendekatan multidisiplin ini dinilai penting agar inovasi yang dihasilkan tidak terbatas pada satu bidang keilmuan saja.
"CIPI bukan hanya milik satu fakultas. Seluruh sivitas akademika UNAS memiliki ruang untuk berkolaborasi. Misalnya, bersama Fakultas Bahasa dan Sastra melalui pengenalan AI Agent yang dapat membantu berbagai aktivitas akademik maupun profesional," jelas Benrahman.
Dari sisi metode kerja, CIPI menerapkan budaya produktivitas berbasis target mingguan. Sistem perencanaan program yang terukur ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi-inovasi yang relevan dengan dinamika kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi terkini.
Benrahman juga menyoroti bahwa tantangan dunia kerja yang kian kompetitif menjadi alasan mendasar berdirinya CIPI. Lulusan perguruan tinggi di era sekarang tidak cukup hanya mengandalkan ijazah, melainkan harus memiliki kompetensi, kreativitas, dan kemampuan menghasilkan inovasi bernilai tambah. CIPI diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak sekadar siap bekerja, tetapi juga sanggup menciptakan solusi dan membuka peluang usaha berbasis inovasi.
Di luar kontribusinya terhadap dunia pendidikan dan industri, CIPI juga diyakini mampu memberikan dampak positif bagi pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi lintas fakultas membuka peluang terciptanya solusi teknologi yang tetap memperhatikan nilai-nilai sosial dan kultural yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Melalui pusat studi ini, UNAS menargetkan percepatan hilirisasi hasil penelitian agar inovasi yang lahir dari lingkungan kampus dapat menjawab kebutuhan konkret masyarakat sekaligus menopang pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. CIPI juga diproyeksikan menjadi ruang pertemuan kolaboratif antara akademisi, mahasiswa, pelaku industri, dan masyarakat dalam menciptakan inovasi berkelanjutan.
"Pusat studi ini bukan akhir dari perjalanan, tetapi halaman pertama dari sebuah amanah. Kami ingin memastikan bahwa setiap penelitian dan inovasi yang lahir dari UNAS benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, dunia industri, dan pembangunan bangsa," pungkas Benrahman.