Asosiasi Sepak Bola Uni Eropa (UEFA) bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) sepakat untuk mengembalikan fungsi awal asisten wasit video (VAR). Langkah ini diambil guna memastikan teknologi tersebut hanya digunakan untuk mengoreksi keputusan lapangan yang benar-benar keliru secara fatal dan nyata.
Keputusan ini dicapai setelah UEFA mempertemukan para kepala wasit dari 55 asosiasi anggota pada pekan lalu. Selain menegaskan peran VAR, pertemuan tersebut juga menyepakati sejumlah langkah mempercepat tempo permainan, seperti pembatasan waktu pergantian pemain dan aturan hitung mundur lima detik untuk eksekusi lemparan ke dalam maupun tendangan gawang.
UEFA menggarisbawahi bahwa VAR tidak diciptakan untuk mengambil alih peran wasit utama di lapangan. Durasi peninjauan video yang terlalu lama dinilai menjadi indikasi bahwa insiden yang terjadi tidak masuk dalam kategori kesalahan yang jelas dan nyata, sehingga proses peninjauan tersebut seharusnya dibatasi demi kelancaran laga.
Dalam kesempatan yang sama, IFAB memberikan klarifikasi terkait keterbatasan wewenang VAR dalam meninjau kartu kuning. Saat ini, VAR hanya diperbolehkan mengintervensi kartu kuning untuk mengoreksi kesalahan identitas pemain yang melanggar, bukan untuk menganalisis atau mengubah keputusan pelanggaran itu sendiri. Hal ini merujuk pada insiden kontroversial yang melibatkan pemain Swiss, Breel Embolo, pada laga internasional sebelumnya.
Direktur Wasit UEFA, Roberto Rosetti, menyatakan bahwa kesepakatan ini menjadi tonggak penting demi menyamakan persepsi di antara pemain, klub, dan pendukung sepak bola di seluruh dunia. Kendati demikian, UEFA menegaskan tidak akan mengadopsi beberapa aturan baru dari Piala Dunia 2026, seperti sanksi kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan, maupun peninjauan VAR khusus untuk situasi tendangan sudut.