PASER — Lantai tiga Kandilo Plaza di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, mendadak berubah menjadi arena kompetisi bernuansa budaya. Dentuman kayu dan sorak sorai peserta menggema di tengah pusat perbelanjaan modern itu, menandai berlangsungnya Turnamen Balogo Kering atau Koreng yang digagas oleh Pengurus Cabang Gabungan Olahraga Balogo Indonesia (GOBI) Kabupaten Paser.
Perhelatan ini menjadi simbol menarik dari upaya pelestarian warisan tradisional Kalimantan yang tengah berjuang mempertahankan eksistensinya di era modernisasi. Setidaknya 30 peserta dari berbagai kelompok usia turut meramaikan ajang tersebut, mulai dari pelajar sekolah dasar hingga warga berusia di atas 60 tahun.
Ketua Pengcab GOBI Kabupaten Paser, Amriyan, menyampaikan bahwa turnamen ini dirancang tidak semata sebagai ajang kompetisi, melainkan juga sebagai ruang silaturahmi dan pembuktian bahwa olahraga tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. "Alhamdulillah untuk balogo kering ini tadi kurang lebih ada 30-an peserta, cukup ramai untuk hari ini. Usia peserta mulai dari anak-anak SD sampai umum. Bahkan ada yang usianya sudah di atas 60 tahun masih ikut bermain," ungkap Amriyan pada Jumat, 26 Juni 2026.
Semangat para peserta menjadi bukti nyata bahwa kecintaan terhadap olahraga tradisional ini belum pudar. Mereka rela menempuh perjalanan jauh dari berbagai penjuru kecamatan di Kabupaten Paser, termasuk dari Long Kali, Olong Pinang, Lempesu, hingga Damit di Kecamatan Batu Engau, demi menjaga kelestarian tradisi balogo tetap hidup.
Meski tampak sederhana bagi orang awam, balogo ternyata memiliki kedalaman teknik yang cukup kompleks. Amriyan menjelaskan bahwa terdapat tiga varian permainan yang lazim dipertandingkan. Pertama, Balogo Kering atau Koreng yang menggunakan logo asli tanpa modifikasi berat, sebagaimana yang dipertandingkan dalam turnamen kali ini. Kedua, Balogo Dempul yang menggunakan logo yang telah dilapisi atau dimodifikasi agar mencapai berat tertentu. Ketiga, Balogo Ambal yang dimainkan di atas permukaan karpet atau ambal khusus.
Kompetisi yang semula direncanakan berlangsung selama dua hari ini ternyata mampu diselesaikan hanya dalam satu hari. Cepatnya ritme permainan dan efisiensi pelaksanaan turnamen menjadi faktor utama. Hal ini sekaligus menunjukkan kesiapan dan kematangan para peserta dalam menjalani setiap babak pertandingan, menegaskan bahwa regenerasi pegiat olahraga tradisional di Kabupaten Paser berjalan dengan baik.