Tren olahraga lari santai atau slow jogging kini tengah digandrungi masyarakat urban sebagai pilihan aktivitas fisik yang murah dan praktis. Berbeda dengan lari intensitas tinggi, olahraga ini dilakukan dengan ritme perlahan yang memungkinkan pelaku olahraga tetap bernapas lega, tersenyum, bahkan mengobrol tanpa terengah-engah.
Pakar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS., menekankan pentingnya persiapan matang sebelum memulai aktivitas ini. Ia menyarankan konsumsi air putih yang cukup secara berkala guna mencegah dehidrasi dan panas tubuh berlebih. Selain itu, pemilihan sepatu yang tepat sangat krusial untuk meminimalisasi benturan pada lutut dan sendi panggul.
Zainal memaparkan bahwa meski gerakannya lambat, lari santai yang dilakukan secara konsisten efektif memicu kinerja jantung dan memperlancar aliran darah hingga ke sel kulit terluar. Untuk pembakaran lemak tubuh, ia menjelaskan bahwa olahraga intensitas ringan dengan durasi yang lebih lama justru jauh lebih optimal dibandingkan olahraga berat dalam waktu singkat.
Tidak hanya fisik, olahraga ini juga membawa dampak positif bagi kesehatan psikologis. Gerakan ritmis pada lari santai mampu mengaktifkan saraf vagus (saraf otak ke-10) yang berfungsi menyeimbangkan emosi, sehingga memicu rasa tenang, ceria, dan menekan risiko depresi. Manfaat ini akan berlipat ganda jika aktivitas dilakukan bersama komunitas karena adanya proses regulasi sosial yang menyehatkan mental.
Sebagai panduan praktis, pemula disarankan memulai dengan durasi singkat sekitar 5 hingga 10 menit terlebih dahulu, sebelum ditingkatkan secara bertahap. Zainal juga menganjurkan durasi ideal lari santai berkisar antara 30 hingga 45 menit dengan frekuensi 3 sampai 5 kali seminggu, yang wajib didahului dengan pemanasan dan didukung oleh istirahat tidur yang cukup.