Ekonom syariah ternama Adiwarman A. Karim mendesak Muhammadiyah untuk membangun ekosistem bisnis yang solid, mandiri, dan berkelanjutan melalui tiga strategi kunci. Menurut pakar yang telah lama berkecimpung di bidang ekonomi syariah ini, pendirian unit-unit usaha semata belum cukup untuk menciptakan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya. Diperlukan sebuah ekosistem terintegrasi yang mampu menjaga perputaran transaksi dan nilai ekonomi agar tetap beredar dalam satu jaringan yang saling menopang.
Pandangan tersebut disampaikan Adiwarman dalam forum Pengajian Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, pada Jumat (26/6/2026). Di hadapan para pimpinan Persyarikatan, ia menguraikan secara rinci bagaimana Muhammadiyah dapat mengoptimalkan potensi ekonomi yang selama ini dimilikinya.
Strategi pertama yang diusung Adiwarman adalah mengidentifikasi kebutuhan masyarakat berdasarkan siklus kehidupan, atau yang disebutnya sebagai pendekatan "identify and acquisition". Ia menegaskan bahwa pelaku usaha dalam lingkungan Muhammadiyah harus sanggup menyediakan produk dan layanan yang menyentuh seluruh tahapan kehidupan masyarakat, mulai dari masa kanak-kanak, pendidikan, kesehatan, hingga usia senja. Agar strategi ini berjalan efektif, organisasi perlu memosisikan diri sebagai pembeli besar (big buyer) atau distributor utama sehingga memiliki daya tawar tinggi terhadap produsen.
"Untuk hadir di setiap siklus tersebut, langkah yang tepat adalah menangkap pasar terlebih dahulu dan menjadi pembeli besar atau distributor utama. Dengan posisi itu, kita memiliki bargaining power yang kuat di hadapan produsen," tegas Adiwarman. Posisi strategis semacam ini, lanjutnya, memungkinkan organisasi tidak sekadar menjadi konsumen atau perantara, melainkan turut mengendalikan rantai pasok dan mengembangkan bisnis secara lebih terencana.
Strategi kedua bertajuk "follow the money" atau mengikuti arus perputaran uang. Adiwarman menyoroti fenomena banyak organisasi yang berhasil menghimpun dana besar, namun gagal mempertahankan agar dana tersebut tetap berputar di dalam ekosistemnya. "Jangan sampai kita hanya bekerja keras mengumpulkan dana sedikit demi sedikit, tetapi ketika jumlahnya sudah besar justru mengalir keluar ke lembaga atau perusahaan lain," ungkapnya. Oleh karena itu, kehadiran organisasi di setiap mata rantai transaksi menjadi krusial agar manfaat ekonomi tidak bocor ke luar sistem.
Strategi ketiga, yang dinilai Adiwarman sebagai faktor paling menentukan, adalah membangun transaksi tertutup dalam ekosistem atau "close loop transaction". Dengan konsep ini, dana yang beredar akan terus dimanfaatkan oleh anggota maupun institusi dalam jaringan yang sama, sehingga menciptakan efek pengganda bagi pertumbuhan ekonomi. Ia mencontohkan sejumlah lembaga keuangan yang mampu menekan biaya dana karena sebagian besar transaksi berlangsung di antara nasabah dalam ekosistem mereka sendiri.
Adiwarman meyakini Muhammadiyah memiliki modal besar untuk menerapkan ketiga strategi tersebut. Persyarikatan telah memiliki jaringan amal usaha yang membentang luas, mencakup sektor pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi. "Muhammadiyah memiliki ekosistem dan kekuatan ekonomi yang besar. Karena itu, kita perlu membangun transaksi yang close loop, sehingga uang yang beredar tidak pergi ke mana-mana, melainkan kembali berputar di perusahaan-perusahaan dan amal usahanya sendiri," tegasnya.
Apabila seluruh elemen Persyarikatan berhasil terhubung dalam satu ekosistem ekonomi yang terintegrasi, potensi besar Muhammadiyah diyakini akan menghasilkan dampak yang jauh lebih signifikan. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, hingga berbagai unit usaha milik warga Muhammadiyah dapat bertransformasi menjadi mata rantai ekonomi yang saling memperkuat satu sama lain.
Melalui penguatan ekosistem bisnis terintegrasi ini, Adiwarman berharap Muhammadiyah mampu mencapai kemandirian ekonomi, meningkatkan kesejahteraan warga dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta menghadirkan model pembangunan ekonomi berbasis syariah yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia secara luas.