Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan klaim mengejutkan mengenai kondisi Mojtaba Khamenei, putra sekaligus penerus mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam sebuah wawancara televisi pada Senin (13/7/2026), Trump menyatakan bahwa Mojtaba kini dalam kondisi kritis dan "90 persen telah tiada" akibat operasi militer gabungan.
Pernyataan tersebut merujuk pada dampak serangan udara masif yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Trump dengan percaya diri memamerkan kerusakan fatal yang dialami oleh pertahanan Iran, seraya menegaskan bahwa infrastruktur militer strategis negara tersebut, termasuk angkatan laut dan sistem pertahanan udara, kini telah lumpuh total.
Spekulasi mengenai kondisi Mojtaba memang terus bergulir setelah dirinya tidak pernah lagi terlihat di hadapan publik sejak akhir Februari. Penerus takhta spiritual Iran yang terpilih resmi pada 9 Maret 2026 ini bahkan absen dalam prosesi pemakaman sang ayah yang digelar di Iran maupun Irak, memperkuat dugaan bahwa ia sedang menjalani perawatan intensif akibat luka parah dari serangan udara tersebut.
Ketegangan di kawasan Teluk kian membara menyusul berakhirnya masa gencatan senjata antara kedua belah pihak. Selain melanjutkan serangan militer, Washington juga kembali memberlakukan blokade maritim di Selat Hormuz serta berencana menerapkan biaya keamanan bagi kapal-kapal komersial asing yang melintasi jalur logistik energi vital global tersebut.
Menanggapi eskalasi ini, militer Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Bahrain serta dua kapal tanker komersial terkait Uni Emirat Arab di Selat Hormuz. Aksi saling balas ini memicu kekhawatiran global mengingat Selat Hormuz merupakan rute krusial yang dilalui seperlima perdagangan minyak dan gas bumi dunia.