Teleskop luar angkasa Hubble milik NASA kembali menorehkan penemuan bersejarah dengan memotret sebuah galaksi kuno yang sangat jauh. Objek bernama MXDFz4.4 itu awalnya dianggap oleh para ilmuwan mustahil untuk bisa dideteksi dari Bumi karena tersembunyi di balik kabut kosmik purba.

Galaksi ini tertangkap sedang dalam proses unik, yaitu mengusir "kabut kosmik" berupa gas hidrogen netral yang pernah memenuhi alam semesta pada masa awal pembentukannya. Berdasarkan perhitungan, galaksi ini sudah eksis ketika alam semesta baru berusia sekitar 1,4 miliar tahun setelah peristiwa ledakan besar (Big Bang).

Penemuan ini mengejutkan karena para astronom sebelumnya meyakini kabut gas hidrogen netral di era kosmik awal bersifat sangat pekat dan mampu menyerap radiasi ultraviolet. Gas tersebut dianggap memblokir pandangan teleskop sehingga membuat objek di baliknya tak terlihat.

Namun, melalui pengamatan paparan panjang (long exposure) dari sejumlah survei data, Teleskop Hubble justru berhasil mendeteksi pancaran cahaya ultraviolet yang lolos dari galaksi MXDFz4.4. Fenomena ini hanya mungkin terjadi jika gas hidrogen di sekitar galaksi tersebut sudah mengalami ionisasi dan menjadi transparan.

Ilias Goovaerts, peneliti pascadoktoral di Space Telescope Science Institute (STScI) yang memimpin penemuan, menyatakan, "Mengamati galaksi seperti ini sebelumnya dianggap mustahil. Hubble tidak hanya mendeteksi cahaya tersebut, tetapi juga mengungkap detail luar biasa mengenai karakteristik galaksi itu."

Analisis mendalam yang memadukan data Hubble dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) mengungkap bahwa bintang-bintang di dalam galaksi tersebut tidak terbentuk sekaligus, melainkan lahir dalam beberapa gelombang ledakan (bursts). Setiap gelombang ini menghasilkan radiasi ultraviolet berenergi tinggi yang perlahan menyapu bersih ruang dari kabut gas.

Penemuan ini memberikan bukti konkret pertama bagi astronom mengenai bagaimana galaksi-galaksi awal bertanggung jawab atas transisi besar alam semesta dari era kegelapan berkabut menjadi kosmos yang transparan seperti sekarang. Para ilmuwan berharap dapat menemukan lebih banyak galaksi serupa untuk memahami lebih dalam akhir dari era kabut kosmik tersebut.