Industri konsol game tengah menghadapi tantangan finansial yang berat. Laporan terbaru dari jurnalis sekaligus pengamat industri dari Windows Central, Jez Corden, mengungkapkan bahwa Microsoft masih menanggung kerugian sekitar USD 150 (sekitar Rp2,4 juta) untuk setiap unit Xbox Series X|S batch terbaru yang terjual. Defisit ini tetap membayangi lini konsol tersebut meskipun Microsoft telah merencanakan penyesuaian harga ke atas yang akan berlaku mulai Agustus 2026 mendatang.
Penyebab utama dari kerugian ini adalah melonjaknya biaya produksi akibat krisis rantai pasok komponen global. Kenaikan harga memori grosir yang melonjak hingga 700 persen sejak pertama kali konsol ini dirilis menjadi pukulan telak. Fenomena yang dijuluki sebagai "RAMpocalypse" ini tidak hanya memengaruhi Xbox, melainkan juga menekan industri elektronik konsumen secara luas, termasuk produsen laptop dan ponsel pintar.
Meskipun angka kerugian USD 150 ini tergolong besar, kondisi ini sebenarnya sedikit membaik dibanding perkiraan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh angka USD 200 per unit. Namun, situasi keuangan divisi perangkat keras Xbox masih jauh dari kata ideal. CEO Xbox, Asha Sharma, sebelumnya mengakui bahwa margin keuntungan dari sektor perangkat keras mereka sangat tipis, yakni hanya berkisar di angka 3 persen setelah dikurangi berbagai biaya operasional.
Sebagai langkah mitigasi, Microsoft menetapkan kebijakan penyesuaian harga baru per 1 Agustus 2026. Xbox Series X akan mengalami kenaikan harga dari USD 649,99 menjadi USD 799,99, sedangkan Xbox Series S naik dari USD 399,99 menjadi USD 499,99. Langkah menaikkan harga konsol di tengah siklus hidupnya merupakan anomali di industri game, di mana harga konsol biasanya justru menurun seiring bertambahnya usia produk.
Tekanan biaya ini juga memaksa Microsoft memikirkan ulang strategi untuk konsol generasi mendatang mereka yang dikenal dengan sandi Project Helix. Mengingat menaikkan harga secara terus-menerus bukan solusi jangka panjang, muncul spekulasi bahwa konsol masa depan Xbox mungkin akan mengadopsi sistem terbuka mirip PC yang mendukung platform pihak ketiga seperti Steam. Konsekuensinya, harga perangkat tersebut diproyeksikan melonjak drastis tanpa adanya subsidi dari produsen, berpotensi menembus angka di atas USD 1.000 untuk dapat bertahan secara bisnis.