Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah mengembangkan teknologi eliminasi virus untuk menghasilkan benih bawang putih berkualitas tinggi. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas panen petani lokal sekaligus memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih yang masih tinggi.
Selama ini, para petani bawang putih di tanah air lazim menggunakan siung dari hasil panen sebelumnya sebagai bibit melalui metode perbanyakan vegetatif. Sayangnya, sistem konvensional ini rentan membawa dan mengakumulasi patogen serta virus dari satu generasi tanaman ke generasi berikutnya, yang pada akhirnya memicu penurunan kualitas benih dan kemerosotan hasil panen dari waktu ke waktu.
Kolaborasi riset ini diwadahi oleh Pusat Riset Hortikultura BRIN dan UGM melalui Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS). Program ini secara khusus berfokus pada pengembangan varietas unggul bawang putih berumbi besar yang adaptif terhadap suhu tinggi di wilayah dataran menengah.
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menjelaskan bahwa inovasi eliminasi virus sangat krusial demi menjaga sifat unggul dari hasil pemuliaan tanaman. Pihaknya kini berupaya menciptakan metode pembersihan virus yang efisien, praktis, dan ramah di kantong petani agar dapat diadopsi secara massal oleh produsen benih nasional.
Dalam proses identifikasi awal, tim peneliti menemukan fakta bahwa sekitar 80 persen sampel bawang putih yang diuji terinfeksi ganda oleh Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV). Sampel-sampel tersebut dikumpulkan dari beberapa daerah sentra produksi, termasuk Magelang, Temanggung, Tawangmangu, Enrekang, hingga Yogyakarta.
Pakar virologi tumbuhan UGM, Sedyo Hartono, mengungkapkan bahwa infeksi virus sering kali tidak menampakkan gejala fisik yang kentara pada tanaman di lapangan karena kerap tertutupi oleh infeksi penyakit lain seperti jamur. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengukur efektivitas teknologi ini dalam menekan populasi virus serta dampaknya terhadap ketahanan tanaman.
Proyek riset komprehensif ini ditargetkan berjalan selama dua tahun. Fase awal difokuskan pada uji validasi metode dan pembuatan prototipe alat di skala laboratorium, disusul uji coba lapangan pada fase berikutnya. Selain UGM, konsorsium riset ini juga menggandeng IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Del untuk menguji coba hasil benih sehat di Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.