Sebuah riset mendalam yang dilakukan oleh Forrester Consulting dan FPT bertajuk “Dari Proyek Percontohan hingga Platform yang Dapat Digunakan Kembali” menyoroti dinamika adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor korporasi global. Laporan tersebut memetakan transisi perusahaan dalam mengintegrasikan AI dari sekadar eksperimen menuju implementasi strategis yang berdampak luas.
Hasil survei menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi operasional dan optimalisasi data merupakan motor utama investasi AI. Sebanyak 48% perusahaan menjadikan otomatisasi sebagai fokus utama, sementara 45% lainnya berupaya meningkatkan kemampuan analisis data untuk mempercepat pengambilan keputusan. Namun, mayoritas perusahaan saat ini masih terjebak dalam penggunaan AI untuk sekadar mengoptimalkan proses eksisting, alih-alih melakukan transformasi model operasional secara menyeluruh.
Kendala teknis muncul sebagai tantangan yang paling signifikan. Sebanyak 41% pemimpin bisnis menyatakan bahwa integrasi AI dengan infrastruktur sistem yang sudah ada merupakan hambatan terbesar. Selain itu, 38% perusahaan kesulitan melakukan peningkatan skala (scaling) dari proyek percontohan terbatas menuju platform perusahaan yang terpadu. Keterbatasan pada pengelolaan data, sistem pendukung, dan model tata kelola menjadi faktor penghambat utama di lapangan.
Merespons kompleksitas tersebut, kriteria pemilihan mitra teknologi kini telah bergeser. Perusahaan tidak lagi hanya mencari penyedia layanan teknologi, tetapi membutuhkan mitra strategis yang mampu mengelola seluruh siklus hidup AI, mencakup konsultasi, integrasi sistem, hingga aspek keamanan dan tata kelola. Kemampuan untuk mengamankan operasional AI menjadi prioritas bagi 39% perusahaan dalam rencana investasi masa depan mereka.
Pham Minh Tuan, Direktur Jenderal FPT Software, menegaskan bahwa ambisi bisnis dalam menerapkan AI memerlukan pendekatan yang terukur. Menurutnya, perusahaan harus mampu membangun platform AI yang dapat digunakan kembali guna menciptakan keunggulan kompetitif. Tanpa dukungan infrastruktur yang sinkron antara tata kelola, keamanan, dan model operasional yang solid, transformasi digital berbasis AI akan sulit mencapai hasil yang maksimal.