Sejumlah pelaku usaha rintisan dan eksportir di Vietnam menyuarakan keresahan mereka terkait sulitnya akses permodalan dari perbankan dalam "Dialog Bisnis-Pemerintah Kota" yang diselenggarakan di Ho Chi Minh City. Meskipun sektor perbankan telah menginisiasi berbagai skema dukungan, kendala teknis seperti persyaratan jaminan, prosedur yang rumit, hingga minimnya riwayat laporan keuangan tetap menjadi hambatan utama bagi bisnis yang sedang berkembang.
Para pelaku usaha, termasuk perusahaan di sektor budidaya pertanian ekspor, menyoroti ketimpangan antara potensi pasar yang mereka miliki dengan syarat ketat yang diberlakukan bank. Banyak dari mereka telah mengantongi kontrak ekspor internasional, namun tetap terbentur aturan perbankan konvensional yang menitikberatkan pada aset fisik sebagai agunan. Situasi ini memaksa mereka meminjam modal kerja jangka pendek dengan suku bunga yang relatif tinggi, yang tentu memberatkan keberlangsungan operasional jangka panjang.
Menanggapi hal tersebut, pihak perbankan komersial memberikan perspektif berbeda. HDBank menyatakan bahwa jaminan fisik bukanlah satu-satunya faktor penentu. Bank kini mulai beralih menilai efektivitas rencana bisnis dan kredibilitas mitra usaha sebagai acuan pemberian kredit. Jika sebuah startup mampu menunjukkan keterikatan yang kuat dengan ekosistem bisnis besar, peluang untuk mendapatkan pembiayaan tetap terbuka lebar meskipun laporan keuangan perusahaan belum mencakup periode tiga tahun.
Menutup dialog tersebut, Bank Negara Vietnam cabang wilayah 2 berkomitmen untuk memfasilitasi akses yang lebih inklusif. Otoritas perbankan akan memperkuat peran konsultasi di tingkat lokal serta menerapkan sistem respons cepat guna meninjau hambatan yang dilaporkan oleh para pelaku usaha secara spesifik. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat arus modal ke sektor-sektor yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah.