Menghadapi era disrupsi digital yang bergerak cepat, tantangan dunia pers kini kian kompleks. Menanggapi hal tersebut, bakal calon Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2027-2031, Tantan Sulthon Bukhawan, menegaskan bahwa perubahan teknologi informasi tidak boleh menggoyahkan prinsip dasar serta etika jurnalistik yang telah lama mapan.
Tantan, yang memulai perjalanan profesinya sejak awal tahun 2000-an di era keemasan media cetak, melihat langsung pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat. Menurutnya, meskipun platform penyebaran informasi bertransformasi dari kertas ke layar digital, nilai utama jurnalistik seperti kebenaran, verifikasi, dan keberimbangan data harus tetap dijaga ketat oleh setiap wartawan.
Dalam rekam jejak kariernya yang membentang lebih dari dua dekade, mulai dari Harian Umum Mitra Dialog (Pikiran Rakyat Grup), Harian Seputar Indonesia (Sindo), hingga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi InilahKoran, Tantan menyadari betul tekanan kecepatan di era internet. Namun, ia mengingatkan bahwa menyajikan berita yang tepercaya dan dapat dipertanggungjawabkan jauh lebih mulia daripada sekadar menjadi yang pertama menyebarkannya.
Lebih lanjut, Tantan mendorong para jurnalis lokal untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersinergi dengan teknologi kecerdasan buatan dan media sosial. Langkah ini dinilai krusial agar profesi wartawan tetap relevan sebagai pilar demokrasi serta agen perubahan sosial yang membawa dampak positif bagi publik luas.