Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mengambil langkah strategis untuk menekan angka kasus tekanan darah tinggi pada kelompok remaja dengan menyelenggarakan Workshop Peer Educator GEN Z SEHATI (Sehat Anti Hipertensi). Agenda yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Kediri pada Kamis (6/8) ini menyasar para pelajar SMA setempat agar menjadi pelopor gaya hidup sehat di lingkungan sekolah mereka.

Kepala Dinkes Kota Kediri, dr. Hamida, Sp.P, mengungkapkan bahwa program ini diinisiasi akibat ditemukannya pergeseran tren hipertensi ke kelompok usia yang lebih muda. Merujuk data Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) Kota Kediri tahun 2025, tercatat sebanyak 234 anak atau sekitar 4,1 persen dari total 5.697 remaja berusia 15–17 tahun yang diperiksa memiliki tekanan darah di atas atau sama dengan 140/90 mmHg.

Menurut dr. Hamida, pergeseran tren ini dipicu oleh akumulasi gaya hidup kurang bergerak (sedenter), konsumsi makanan instan tinggi natrium, serta tekanan psikologis atau stres akademis dan sosial. Untuk mengatasinya, Dinkes menerapkan metode pendekatan teman sebaya (peer educator) agar pesan edukasi kesehatan dapat tersampaikan dengan lebih efektif dan diterima secara terbuka oleh para remaja.

Gracia, siswi kelas XI SMAK St. Agustinus Kediri, membagikan antusiasmenya setelah mengikuti pelatihan tersebut. Ia mengaku mendapatkan wawasan berharga mulai dari teknik pengukuran tekanan darah secara mandiri hingga pemahaman mengenai kesehatan mental. Kegiatan ini dinilai sangat menarik karena tidak hanya memaparkan teori, melainkan juga melibatkan praktik langsung menggunakan peralatan medis.

Workshop ini menghadirkan dua narasumber ahli, yakni dr. M. Ujung Baehaqi, Sp.PD (Spesialis Penyakit Dalam RS Bhayangkara Kediri) dan Shofi Mirwani, M.Psi (Psikolog UIN Syeh Wasil Kediri). Penyampaian materi yang interaktif dan menggunakan bahasa khas anak muda membuat para peserta termotivasi untuk segera memperbaiki pola makan dan mencukupi asupan gizi harian mereka.

Ke depan, Pemerintah Kota Kediri berharap para siswa yang telah dilatih ini dapat bersinergi dengan unit Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di masing-masing instansi. Pihak sekolah didorong memberikan ruang gerak terstruktur bagi para agen perubahan ini untuk melakukan deteksi dini, konseling sebaya, serta mengampanyekan gerakan hidup sehat secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.