Upaya mencegah anemia defisiensi besi (IDA) pada anak sering kali hanya difokuskan pada pemberian asupan kaya zat besi. Padahal, menurut pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dian Novita Chandra, mengonsumsi makanan bergizi saja belum cukup jika tubuh tidak mampu menyerap zat besi tersebut secara optimal.

Permasalahan utama yang sering luput dari perhatian orang tua adalah keberadaan senyawa fitat yang berperan sebagai inhibitor atau penghambat penyerapan zat besi. Senyawa ini banyak ditemukan dalam nasi serta berbagai jenis kacang-kacangan atau legum yang menjadi menu pokok masyarakat Indonesia sehari-hari.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, masyarakat disarankan untuk memperhatikan metode pengolahan makanan. Proses fermentasi terbukti efektif menurunkan kadar fitat, terutama pada bahan pangan berbasis kedelai. Makanan khas tradisional seperti tempe dan tahu merupakan contoh nyata penerapan teknik fermentasi yang dapat mempermudah tubuh dalam menyerap zat besi.

Selain teknik pengolahan, variasi menu juga memegang peranan krusial. Dian menekankan pentingnya mengombinasikan sumber pangan hewani dan nabati dalam setiap porsi makan anak. Kombinasi yang tepat diyakini mampu menyeimbangkan faktor penghambat penyerapan dengan unsur-unsur yang justru membantu mengoptimalkan penyerapan zat besi di saluran cerna.

Mengingat prevalensi anemia masih mengintai satu dari empat balita di Indonesia, edukasi mengenai cara penyajian dan pemilihan kombinasi makanan yang tepat menjadi langkah preventif yang vital guna menekan angka defisiensi besi di masa depan.