Pemerintah terus berupaya mencari solusi efektif dalam menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Atas instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah menyiapkan opsi teknologi modifikasi cuaca (TMC) termutakhir menggunakan material khusus.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengembangkan material natrium klorida (NaCl) yang dihaluskan hingga berukuran 25 mikron. Formulasi berukuran mikro ini dinilai jauh lebih efisien dalam merangsang potensi awan menjadi hujan di wilayah rawan kebakaran.

"Arahan Bapak Presiden sangat jelas, BRIN diminta mencari berbagai alternatif teknologi yang mampu mengatasi bencana karhutla ini," ujar Arif saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Kendati demikian, Arif menegaskan bahwa peran BRIN terbatas pada riset, pengembangan teknologi, serta penyediaan material. Sementara itu, eksekusi operasi teknologi modifikasi cuaca di lapangan sepenuhnya menjadi wewenang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara.

Integrasi ini juga didukung oleh transisi sekitar 50 peneliti ahli cuaca dari BRIN ke BMKG untuk memperkuat tim operasional. Dengan pembagian peran ini, BRIN fokus pada inovasi jangka panjang sedangkan BMKG fokus pada mitigasi bencana secara taktis.