Gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka mendalam sekaligus tantangan pemulihan yang besar. Merespons krisis kesehatan pascabencana, Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah bergerak cepat dengan mendirikan Rumah Sakit Lapangan berstandar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Kabupaten Manggarai Timur guna menjamin pelayanan medis bagi para pengungsi.
Bencana ini dilaporkan telah merenggut 70 korban jiwa, mencederai 876 warga, dan memaksa 38.862 jiwa mengungsi di tujuh kabupaten terdampak. Menghadapi situasi krusial ini, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengonsolidasikan personel kesehatan dari jaringan Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan Muhammadiyah 'Aisyiyah (RSMA).
Ketua EMT Muhammadiyah, dr. Corona Rintawan, menjelaskan bahwa fasilitas medis darurat yang diterjunkan berstatus EMT Tipe 1 Fixed. Rumah sakit lapangan ini dirancang khusus untuk memperkuat operasional Puskesmas Dampek di Manggarai Timur, dengan masa penugasan awal yang direncanakan berlangsung selama 30 hari.
Untuk menjaga keberlangsungan layanan, Muhammadiyah mengirimkan dua gelombang tim relawan (rosterlist). Setiap gelombang diperkuat oleh 25 personel profesional, mencakup dokter, perawat, bidan, apoteker, psikolog, petugas keselamatan, hingga tim logistik yang bergerak bersama pemenuhan logistik medis sesuai standar internasional.
Seluruh operasional rumah sakit lapangan ini didukung penuh oleh pendanaan dari masyarakat melalui program Indonesia Siaga milik Lazismu. Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, menegaskan komitmen lembaga untuk mengawal misi kemanusiaan ini agar manfaat pelayanan kesehatan darurat dapat dirasakan langsung oleh warga terdampak gempa di NTT.