Survei terbaru yang dirilis oleh lembaga SUAR menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha di Indonesia memandang kondisi perekonomian nasional saat ini sedang tidak berada dalam kondisi ideal. Penilaian pesimistis tersebut diiringi oleh kecemasan mendalam mengenai potensi rambatan dari volatilitas pasar keuangan global ke dalam aktivitas sektor riil dalam negeri.
Berdasarkan jajak pendapat yang berlangsung dari 12 Juni hingga 1 Juli 2026 terhadap 33 pimpinan perusahaan terkemuka, sebanyak 42,4 persen responden dengan tegas menyatakan bahwa iklim ekonomi domestik berstatus buruk. Sementara itu, 39,4 persen lainnya menilai kondisi saat ini masuk dalam kategori agak buruk, menyisakan sebagian kecil responden yang masih melihat adanya sentimen positif.
Tingkat kecemasan pelaku usaha terhadap stabilitas pasar keuangan terpantau sangat tinggi. Survei tersebut memaparkan bahwa 60,6 persen responden merasa sangat khawatir gejolak moneter dapat mengganggu operasional riil dunia usaha mereka, disusul 30,3 persen yang mengaku agak khawatir. Sebaliknya, hanya sebagian kecil yang mengekspresikan optimisme tanpa kecemasan.
Ketika ditanya mengenai akar permasalahan, sebagian besar responden menunjuk pada tata kelola anggaran negara. Kurangnya disiplin fiskal dari pemerintah diidentifikasi oleh 42,4 persen pemimpin bisnis sebagai pemicu utama penurunan performa ekonomi nasional, disusul oleh fenomena hengkangnya modal asing dari pasar saham yang disuarakan oleh 24,2 persen responden.
Guna memulihkan kestabilan dan kepercayaan pasar, para pelaku usaha menyarankan sejumlah langkah taktis. Sekitar 27,3 persen menyarankan agar pemerintah melakukan pengetatan belanja negara, sementara porsi yang setara mengusulkan penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjaga ruang fiskal agar tetap aman dan terjaga di tengah ketidakpastian global.