Mayoritas pemimpin bisnis di seluruh dunia dilaporkan mengalami kekhawatiran yang mendalam mengenai proses perpindahan menuju ekonomi rendah karbon. Survei tahunan dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mengungkap bahwa sebanyak 68 persen dari mereka menilai skenario transisi iklim yang kacau atau semrawut kini jauh lebih mungkin terjadi dibandingkan situasi tahun sebelumnya.
Tingkat kecemasan ini ternyata tidak merata secara geografis. Untuk kawasan Amerika Utara, angka kekhawatiran para bos perusahaan melonjak secara signifikan hingga mencapai 94 persen. Survei yang melibatkan lebih dari 500 pemimpin dan manajer senior dari 50 negara ini juga mencatat bahwa hampir separuh responden (47 persen) mengalami pembengkakan biaya operasional selama setahun terakhir akibat dampak langsung perubahan iklim seperti cuaca ekstrem.
Buruknya lagi, 49 persen pemimpin bisnis memperkirakan biaya-biaya tersebut akan terus merangkak naik dalam satu tahun ke depan. Ancaman dari transisi iklim yang berantakan ini dinilai sangat serius, dengan 98 persen responden menyatakan hal tersebut membahayakan kelangsungan bisnis mereka. Di antaranya, 40 persen mengategorikan ancaman itu sebagai "sangat besar" atau "kritis".
Para pemimpin perusahaan mengaku sudah mulai menanggung beban nyata dari situasi ini. Masalah yang paling sering dihadapi adalah gangguan pada jalur pengiriman dan pasokan bahan baku (54 persen), diikuti oleh fluktuasi harga bahan baku yang tidak pasti, kerusakan fasilitas, serta kenaikan biaya asuransi yang tajam (masing-masing 38 persen). Kekacauan transisi ini berpotensi memicu perubahan regulasi yang mendadak, kerusakan alam permanen, dan inflasi harga barang.
Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, komitmen para pelaku bisnis terhadap agenda lingkungan justru mengalami penguatan. Sebanyak 89 persen pemimpin menyatakan mempertahankan atau bahkan menambah investasi di bidang lingkungan selama setahun terakhir. Tahun ini, jumlah perusahaan yang memperkuat target iklim mereka meningkat dua kali lipat menjadi 38 persen.
Motivasi utama di balik langkah ini adalah alasan pragmatis. Para pemimpin mengakui bahwa strategi ramah lingkungan seperti penggunaan energi bersih, daur ulang, dan pertanian berkelanjutan bukan hanya demi menyelamatkan bumi, tetapi juga karena merupakan pilihan yang paling menguntungkan, aman, dan resilien saat ini. Sebanyak 92 persen yakin bisnis hijau akan menjadi kunci kompetitif utama dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
Alasan pendorong lainnya adalah kepatuhan terhadap regulasi (52 persen) dan peluang pertumbuhan masa depan (46 persen). Untuk kawasan Amerika Utara, permintaan dari konsumen menjadi motivasi utama (68 persen). Survei ini memperkuat persepsi bahwa sektor ekonomi ramah lingkungan, khususnya di bidang energi bersih, kini semakin menarik secara finansial. Presiden WBCSD, Peter Bakker, memperingatkan bahwa tanpa koordinasi pemerintah yang lebih baik dan regulasi yang konsisten, tekanan biaya akan terus membebankan perusahaan dan akhirnya konsumen.