Sektor usaha di Vietnam, khususnya segmen usaha kecil dan menengah (UKM), kini tengah menghadapi tekanan finansial yang cukup berat akibat kebijakan suku bunga tinggi. Meski pemerintah telah berupaya mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga guna merangsang investasi, realita di lapangan menunjukkan bahwa akses terhadap modal murah masih menjadi barang langka bagi pelaku bisnis.
Banyak pengusaha mengeluhkan beban bunga pinjaman yang masih berada di kisaran 14-15% per tahun. Angka ini dinilai tidak proporsional dengan margin keuntungan di sektor manufaktur yang rata-rata hanya berkisar di angka 15%. Kondisi ini menciptakan disinsentif bagi pemilik modal, yang akhirnya lebih memilih menyimpan dana di bank melalui deposito dibandingkan mengambil risiko dalam kegiatan produksi yang penuh ketidakpastian.
Para pelaku industri, mulai dari sektor konstruksi hingga kerajinan kayu, menuntut adanya mekanisme kredit yang lebih spesifik dan terjangkau. Mereka menekankan perlunya dukungan berupa program kredit jangka menengah dan panjang yang selaras dengan siklus operasional bisnis mereka, terutama bagi perusahaan berorientasi ekspor yang membutuhkan arus kas stabil untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Selain masalah biaya modal, para pengusaha juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap kewirausahaan nasional. Suku bunga deposito yang tinggi berpotensi memicu pergeseran aliran dana dari sektor produktif ke instrumen perbankan yang dianggap lebih aman dan minim risiko. Fenomena ini dikhawatirkan akan menurunkan minat masyarakat untuk merintis usaha baru atau melakukan ekspansi bisnis.
Sebagai solusi jangka panjang, para pakar ekonomi mendesak pemerintah untuk menyeimbangkan ekosistem pendanaan antara perbankan dan pasar modal. Ketergantungan berlebih pada kredit bank untuk kebutuhan jangka panjang harus segera dikurangi dengan memperkuat pasar obligasi dan instrumen investasi lainnya. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan struktur suku bunga yang lebih wajar, sekaligus memberikan ruang bagi sektor swasta untuk berinovasi dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.