Temuan arkeologi terbaru memberikan sudut pandang baru mengenai pola hidup manusia purba Homo floresiensis atau yang lebih dikenal sebagai 'manusia hobbit' dari Flores. Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menepis anggapan lama bahwa spesies manusia bertubuh mungil tersebut merupakan pemburu hewan besar yang andal.
Tim peneliti internasional melakukan analisis mendalam terhadap fosil Stegodon florensis insularis, kerabat gajah kerdil yang ditemukan di Gua Liang Bua. Melalui perbandingan bekas luka pada tulang, para ilmuwan membedakan tanda gigitan komodo (Varanus komodoensis) dengan bekas sayatan alat batu yang dibuat oleh manusia hobbit. Hasilnya menunjukkan bahwa komodo lebih dulu memangsa bagian tubuh gajah yang paling banyak mengandung daging.
Sebaliknya, jejak yang ditinggalkan oleh H. floresiensis justru lebih banyak ditemukan pada bagian tulang yang minim daging. Pola ini mengindikasikan bahwa manusia hobbit memperoleh akses makanan secara sekunder atau menjadi pemulung yang memanfaatkan sisa-sisa santapan komodo. Selain itu, riset ini juga menyangkal adanya bukti penggunaan api, sehingga diduga mereka mengonsumsi daging dalam kondisi mentah.
Ketiadaan bukti keterampilan berburu yang kompleks serta teknologi pengolahan api memicu diskusi baru mengenai posisi H. floresiensis dalam garis keturunan genus Homo. Peneliti menduga bahwa nenek moyang manusia purba ini mungkin telah memisahkan diri dari garis evolusi manusia modern jauh sebelum kemampuan berburu dan menguasai api berkembang secara luas.
Paleoantropolog dari Universitas Tubingen, E. Grace Veatch, menyatakan bahwa temuan ini memperkuat hipotesis mengenai evolusi hominin yang bertahan hidup dengan strategi diet yang lebih sederhana. Kendati demikian, misteri mengenai asal-usul persis dan silsilah keluarga H. floresiensis hingga kini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan komunitas ilmiah internasional.