Kementerian Pertanian (Kementan) RI mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi ancaman fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu ketersediaan pakan ternak nasional. Langkah konkret yang diambil adalah dengan mengoptimalkan fungsi 843 bank pakan yang tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan RI, Agung Suganda, menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan bersama Komisi IV DPR RI di Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (3/7/2026). Ia menekankan bahwa bank pakan merupakan instrumen vital dalam menjaga stabilitas pasokan nutrisi ternak, khususnya saat terjadi penurunan produksi hijauan akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Strategi penguatan bank pakan difokuskan pada pengolahan hijauan menjadi pakan awetan, seperti silase (fermentasi) dan hay (pengeringan). Teknik ini memungkinkan pakan bertahan lebih lama, sehingga peternak memiliki cadangan pangan yang stabil saat pasokan rumput di lapangan mulai menyusut akibat perubahan iklim.

Agung menambahkan bahwa optimalisasi ini juga bertujuan mendorong kemandirian kelompok peternak dalam mengelola sumber daya pakan secara berkelanjutan. Selain penyediaan pakan, Kementan juga mengintegrasikan kebijakan ini dengan pengembangan varietas tanaman pakan yang tahan kekeringan serta memperkuat layanan kesehatan hewan guna menjaga produktivitas ternak tetap optimal meski di bawah tekanan iklim ekstrem.

Langkah ini merupakan bagian dari cetak biru pemerintah untuk membangun ketahanan subsektor peternakan yang lebih adaptif. Dengan sistem penyediaan yang terkelola dengan baik di tingkat daerah, diharapkan para peternak dapat meminimalisir kerugian dan tetap menjalankan usaha peternakannya secara stabil selama masa El Nino berlangsung.