Pemerintah Indonesia terus berupaya mempererat hubungan dagang dan investasi dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Langkah strategis ini tidak hanya berfokus pada volume perdagangan konvensional, melainkan mulai diarahkan pada investasi bernilai tambah tinggi, program hilirisasi industri, transfer teknologi, hingga pengembangan kecerdasan artifisial (AI).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa dinamika kerja sama ekonomi kedua negara terus menunjukkan tren positif. Hal ini diperkuat oleh hasil kunjungan kerjanya ke Shanghai yang menghasilkan komitmen investasi baru. Menurut Airlangga, akumulasi modal dari China, yang jika digabungkan dengan aliran investasi dari Singapura dan Hong Kong, memegang peranan yang sangat signifikan bagi perekonomian nasional.
Guna menarik minat para investor global, pemerintah telah menyiapkan serangkaian insentif fiskal yang kompetitif. Insentif tersebut meliputi tax holiday, tax allowance, investment allowance, hingga program super tax deduction yang ditujukan untuk mendorong kegiatan vokasi serta riset dan pengembangan (R&D). Peluang kolaborasi ini juga terbuka lebar di sektor pendidikan, pusat data, infrastruktur digital, serta industri otomotif.
Berdasarkan data tahun 2025, RRT tetap menjadi tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia dengan nilai mencapai 67 miliar dolar AS atau sekitar 23,7 persen dari total ekspor nasional. Kendati demikian, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar 20,5 miliar dolar AS lantaran nilai impor dari China mencapai 87,5 miliar dolar AS. Kemitraan strategis ini diharapkan dapat menyeimbangkan neraca perdagangan melalui peningkatan investasi berkualitas di dalam negeri.