Di tengah ketidakstabilan ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik dan disrupsi rantai pasok, Vietnam terus menunjukkan resiliensi yang signifikan. Dalam forum bertajuk "Mengaktifkan Pertumbuhan: Kebijakan Mikro Terobosan dan Target Dua Digit" yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Sosial Vietnam, Wakil Direktur Akademi Perbankan Vietnam, Profesor Madya Pham Thi Hoang Anh, optimistis bahwa negara tersebut tetap menjadi titik terang dengan proyeksi pertumbuhan PDB mencapai 8,03 persen pada tahun 2025.
Kendati demikian, perekonomian Vietnam tidak terlepas dari tantangan. Sepanjang semester pertama tahun ini, Vietnam mencatat defisit perdagangan sebesar 16,65 miliar dolar AS setelah bertahun-tahun mengalami surplus. Namun, Hoang Anh menegaskan bahwa defisit ini tidak serta-merta menjadi sinyal negatif. Berdasarkan analisis aliran dagang, lebih dari 90 persen impor didominasi oleh bahan baku dan mesin produksi, yang mengindikasikan bahwa para pelaku usaha tengah gencar mempersiapkan siklus ekspansi dan peningkatan ekspor dalam jangka menengah dan panjang.
Menghadapi dinamika tersebut, Bank Negara Vietnam (SBV) menerapkan kebijakan moneter proaktif dan fleksibel yang bersinergi dengan kebijakan fiskal nasional. Sepanjang tahun 2025, sektor perbankan meluncurkan program kredit preferensial bernilai jumbo, termasuk alokasi dana sebesar 100 triliun VND untuk sektor pertanian, pedesaan, kehutanan, dan perikanan. Program ini menawarkan suku bunga yang lebih rendah sekitar 1 hingga 2 persen dari suku bunga pasar untuk memicu produktivitas di pedesaan.
Selain pertanian, stimulus finansial juga dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur strategis, proyek perumahan sosial, serta program transisi hijau. Pemerintah Vietnam bahkan tengah mengusulkan subsidi suku bunga sebesar 2 persen untuk proyek-proyek ramah lingkungan berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Skema pembiayaan ini diperkuat dengan paket kredit infrastruktur dan teknologi digital senilai 500 triliun VND guna mempercepat transformasi digital nasional.
Guna memperluas kapasitas penyaluran modal tanpa menurunkan standar keamanan kredit, otoritas keuangan melakukan penyesuaian regulasi perbankan. Batas maksimum penggunaan dana jangka pendek untuk pinjaman jangka menengah dan panjang dinaikkan dari 30 persen menjadi 40 persen. Selain itu, penyesuaian rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) dilakukan dengan memasukkan simpanan jangka pendek dari Kas Negara, memberikan ruang likuiditas yang lebih longgar bagi perbankan untuk mendukung dunia usaha.
Langkah taktis ini diharapkan berlanjut pada tahun 2026 melalui rencana penurunan suku bunga simpanan demi menekan biaya pinjaman riil. Hoang Anh menyimpulkan bahwa selain fleksibilitas moneter, keberlanjutan ekonomi Vietnam di masa depan juga akan sangat bergantung pada reformasi kelembagaan, transparansi pasar obligasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia demi memperkuat daya saing di kancah internasional.