Di era digital saat ini, masyarakat terus-menerus dibombardir oleh berbagai informasi, mulai dari dinamika politik, gejolak ekonomi, hingga kasus hukum. Sayangnya, paparan berita negatif yang masif ini berpotensi mengganggu stabilitas emosional dan kesehatan mental pembacanya jika tidak disikapi dengan bijak.
Psikolog Klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Pamela Andari Priyudha, M.Psi., menjelaskan bahwa konsumsi berita buruk secara berulang dapat memicu kecemasan akut hingga hilangnya harapan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan memicu fenomena learned helplessness, yaitu sebuah kondisi psikologis saat individu merasa benar-benar tidak berdaya untuk mengubah keadaan, yang kemudian berujung pada sikap apatis dan depresi secara kolektif.
Menurut Pamela, dampak buruk dari tsunami informasi ini tidak merata pada setiap orang. Kelompok yang paling rentan terpapar dampak psikologis negatif ini meliputi kalangan lanjut usia, remaja yang aktif menggunakan media sosial, serta masyarakat dengan tingkat literasi digital yang masih rendah.
Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, peningkatan literasi digital menjadi salah satu langkah krusial. Masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam memilah informasi, tidak mudah terprovokasi oleh judul yang provokatif atau potongan video di media sosial, serta selalu melakukan verifikasi melalui sumber-sumber yang tepercaya dan objektif.
Selain itu, penting untuk melakukan pembatasan konsumsi berita secara sadar, terutama saat kondisi emosional sedang tidak stabil. Mengembangkan kemampuan regulasi emosi dan mengimbangi asupan informasi dengan konten-konten yang positif dan inspiratif dapat membantu menjaga keseimbangan psikologis dalam kehidupan sehari-hari.