SpaceX dikabarkan tengah menimbang langkah besar untuk membawa merek Starlink masuk lebih jauh ke pasar telepon seluler konsumen di Amerika Serikat. Rencana tersebut membuka kemungkinan perusahaan antariksa milik Elon Musk itu tidak lagi hanya menjadi penyedia konektivitas satelit pendukung, tetapi juga pemain langsung dalam layanan nirkabel.
Informasi mengenai rencana tersebut dilaporkan Financial Times pada Jumat (26/6/2026). Mengutip empat sumber yang mengetahui pembahasan internal, Presiden sekaligus Chief Operating Officer SpaceX, Gwynne Shotwell, disebut memaparkan peluang tersebut dalam rangkaian roadshow penawaran umum perdana atau IPO perusahaan.
Jika benar direalisasikan, layanan seluler bermerek Starlink akan menjadi ekspansi penting bagi SpaceX. Selama ini, Starlink lebih dikenal sebagai penyedia internet berbasis satelit dan telah menjalin kerja sama dengan operator telekomunikasi, termasuk T-Mobile, untuk memperluas jangkauan jaringan di wilayah yang sulit terlayani infrastruktur konvensional.
Model bisnis baru yang sedang dipertimbangkan itu disebut akan memungkinkan SpaceX menjual kontrak seluler secara langsung kepada pelanggan. Dengan demikian, Starlink berpotensi berhadapan langsung dengan raksasa telekomunikasi AS seperti Verizon, AT&T, dan T-Mobile.
Bagi SpaceX, masuk ke layanan seluler konsumen dapat membuka akses ke pasar komunikasi yang jauh lebih besar. Langkah ini juga dinilai bisa mengurangi ketergantungan perusahaan pada mitra telekomunikasi yang saat ini berperan sebagai perantara antara jaringan satelit Starlink dan pengguna akhir.
Spekulasi mengenai ambisi SpaceX di sektor seluler menguat setelah perusahaan tersebut sebelumnya mengakuisisi lisensi spektrum nirkabel dari EchoStar senilai USD17 miliar. Aset spektrum dinilai menjadi salah satu komponen penting apabila sebuah perusahaan ingin memperluas layanan komunikasi nirkabel secara mandiri.
Meski demikian, sejumlah analis menilai pembangunan jaringan nirkabel nasional dari nol bukan pilihan yang mudah. Analis TD Cowen, Gregory Williams, menyebut skenario tersebut membutuhkan belanja besar dan waktu panjang, mulai dari pengembangan layanan pelanggan, sistem penagihan, perangkat, pemasaran, hingga operasional jaringan.
Menurut Williams, investasi sebesar itu berisiko menekan arus kas bebas SpaceX secara signifikan. Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan tujuan jangka panjang perusahaan yang membutuhkan dana besar untuk menopang misi eksplorasi ke Mars dan Bulan.
Williams memperkirakan peluang SpaceX membangun jaringan nirkabel sendiri di AS hanya sekitar 10 hingga 20 persen. Sebaliknya, skenario yang dinilai lebih realistis adalah SpaceX menjalin kesepakatan sebagai mobile virtual network operator atau MVNO dengan salah satu dari tiga operator besar AS.
Dalam skenario MVNO, SpaceX dapat menawarkan layanan seluler dengan merek sendiri tanpa harus membangun seluruh infrastruktur jaringan dari awal. Williams memberi probabilitas sekitar 60 persen untuk jalur ini, seraya menilai ancaman membangun jaringan sendiri bisa menjadi alat tawar SpaceX dalam negosiasi dengan operator besar.
Apabila kesepakatan MVNO tidak tercapai, opsi lain yang disebut mungkin ditempuh SpaceX adalah akuisisi operator telekomunikasi. T-Mobile dinilai sebagai kandidat potensial karena telah memiliki hubungan kerja sama dengan Starlink, sementara AT&T juga disebut menarik karena memiliki aset serat optik yang dapat memberi nilai strategis tambahan.
Apa pun jalur yang dipilih, rencana SpaceX memperluas Starlink ke bisnis seluler konsumen berpotensi meningkatkan tekanan persaingan di industri nirkabel AS. Kehadiran pemain dengan dukungan satelit dan sumber daya teknologi besar dapat memaksa operator lama meninjau ulang strategi layanan, harga, dan cakupan jaringan mereka.