PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong pembangunan infrastruktur nasional yang berkelanjutan. Pada paruh pertama tahun 2026, lembaga pembiayaan non-bank ini mencatatkan kinerja positif yang ditandai dengan pertumbuhan aset, peningkatan komitmen investasi baru secara signifikan, serta perluasan mandat layanan konsultasi (advisory) di tingkat nasional maupun internasional.
Hingga akhir Juni 2026, IIF berhasil membukukan total aset sebesar Rp15,0 triliun, tumbuh sebesar 4,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY). Kontribusi utama disumbang oleh aset produktif berupa penyaluran pinjaman dan investasi surat berharga yang mencapai Rp13,4 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 4,9 persen secara tahunan.
Sepanjang semester pertama tahun ini, IIF berhasil merampungkan enam komitmen pembiayaan dan investasi baru dengan nilai kumulatif mencapai Rp2,5 triliun. Pencapaian ini melonjak tajam dibanding realisasi sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp799 miliar. Adapun aliran dana segar tersebut difokuskan pada sejumlah sektor strategis nasional, seperti layanan kesehatan, pengembangan pelabuhan, telekomunikasi dan data, hingga proyek energi terbarukan.
Selain fokus pada pembiayaan, lini bisnis advisory IIF juga menunjukkan performa gemilang dengan raihan sembilan mandat baru bernilai Rp19,0 miliar, meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Salah satu proyek prioritas yang ditangani adalah program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) guna menyokong target tata kelola sampah perkotaan yang berkelanjutan.
Dari sisi kinerja keuangan, IIF mengantongi pendapatan operasional sebesar Rp542,7 miliar pada Semester I 2026. Meskipun angka ini sedikit melandai dari capaian periode sebelumnya akibat adanya pelunasan dipercepat oleh debitur pada awal tahun, pendapatan non-bunga perseroan justru melonjak hingga 54,8 persen menjadi Rp43,0 miliar. Laba bersih yang dibukukan tercatat sebesar Rp38,2 miliar, seiring dengan penerapan kebijakan pencadangan modal yang lebih konservatif demi menjaga stabilitas jangka panjang.
Presiden Direktur & CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan, menyatakan keoptimisannya bahwa perusahaan mampu menjaga momentum pertumbuhan ini berkat fundamental permodalan yang sehat dan rasio kecukupan modal (CAR) yang kokoh di level 56,79 persen. Ia juga menekankan pentingnya penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap proyek demi meminimalkan risiko sekaligus menarik minat investor global. Kepatuhan ini juga membuahkan sejumlah apresiasi internasional, termasuk penghargaan dari FinanceAsia Awards dan Asian Development Bank (ADB).