LOMBOK UTARA – Guna mengakselerasi perkembangan industri pariwisata dan transportasi laut di Nusa Tenggara Barat (NTB), Yamaha Marine secara resmi memperkenalkan teknologi mesin tempel terbaru, Yamaha F300F. Pengenalan produk mutakhir ini dikemas dalam rangkaian pameran dan uji coba mesin (test drive) yang berlangsung selama tiga hari di Pelabuhan Bangsal, Kabupaten Lombok Utara, salah satu pintu gerbang utama pariwisata bahari daerah setempat.
Samuel Waluyo, Sales Manager PT Karya Bahari Abadi selaku distributor resmi Yamaha Marine, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap tingginya kebutuhan armada kapal yang cepat dan andal. Potensi wisata bahari NTB yang membentang dari kawasan Tiga Gili (Trawangan, Meno, Air) di Lombok hingga Pulau Moyo di Sumbawa terus mengalami lonjakan kunjungan. Hal ini memicu peralihan transportasi laut dari mesin konvensional seperti ketinting menuju mesin tempel yang lebih efisien dan modern.
Mesin Yamaha F300F membawa lompatan teknologi yang signifikan, salah satunya adalah fitur Digital Electric Steering (DES). Teknologi ini menggantikan sistem kemudi hidrolik konvensional sehingga memberikan pengalaman bermanuver yang jauh lebih ringan tanpa ketergantungan pada oli hidrolik. Selain itu, integrasi fitur autopilot dan kendali joystick dirancang khusus untuk mempermudah nakhoda saat merapatkan kapal di dermaga yang padat.
Untuk menjamin keberlanjutan operasional para pelaku usaha, Yamaha Marine juga memperkuat ekosistem layanan purnajualnya melalui kerja sama dengan PT Selecta Jaya Marine selaku dealer resmi 3S (Sales, Service, Sparepart) di NTB. Ekspansi bengkel servis yang mendekati titik-titik krusial penyeberangan seperti Bangsal dan Teluk Nare diharapkan dapat mempercepat penanganan perawatan berkala maupun perbaikan suku cadang mesin.
Sementara itu, Direktur CV Selecta Jaya Marine, Muhammad Rizky, menyebutkan bahwa sektor pariwisata menempati porsi terbesar dalam pasar mesin tempel di NTB. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, populasi mesin tempel Yamaha di kawasan tersebut telah mencapai hampir 2.000 unit, yang mayoritas digunakan untuk menopang kebutuhan penyeberangan wisatawan serta operasional resort selam.