Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Zudan Arif Fakrulloh, menegaskan bahwa era praktik 'titip-menitip' dalam seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) telah berakhir. Hal ini dimungkinkan berkat adopsi teknologi komputerisasi yang menutup rapat celah intervensi pihak luar, bahkan dari kalangan pejabat tinggi sekalipun.
Dalam rapat kerja bersama Komite I DPD RI, Zudan mengungkapkan pengalamannya saat menolak permintaan seorang pejabat penting yang ingin memuluskan langkah seseorang menjadi ASN. Meski sempat menuai kemarahan, Zudan tetap berpegang pada prinsip bahwa sistem seleksi saat ini sepenuhnya bersifat objektif dan tidak dapat dimanipulasi oleh kepentingan individu.
Transparansi tersebut dicapai melalui penggunaan metode Computer Based Test (CBT) dan Computer Assisted Test (CAT). Dengan sistem ini, seluruh tahapan ujian berlangsung secara real time, di mana skor peserta akan langsung muncul sesaat setelah pengerjaan berakhir. Mekanisme inilah yang menjadi jawaban mengapa seleksi ASN saat ini dinilai jauh lebih ketat dan kompetitif dibandingkan masa lalu.
Zudan juga menekankan bahwa aturan ini berlaku bagi siapa pun, termasuk keluarga dari pegawai BKN sendiri. Tidak ada perlakuan istimewa bagi kerabat internal; mereka tetap diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian seleksi secara terbuka dan bersaing murni dengan pelamar umum. Banyak putra-putri pegawai BKN bahkan harus berjuang berulang kali sebelum akhirnya berhasil lolos seleksi.
Ketegasan sistem ini tercermin dari data rekrutmen periode 2024-2025, yang menunjukkan tingkat kelulusan hanya mencapai 6,3% dari total pelamar. Angka tersebut menjadi bukti bahwa integrasi teknologi dalam rekrutmen ASN sukses menciptakan iklim seleksi yang akuntabel dan berorientasi pada kompetensi peserta.