Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong penguatan kolaborasi antara pemilik kekayaan intelektual (IP) global dan kreator lokal demi mengakselerasi pertumbuhan industri kreatif nasional. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat menghadiri festival tahunan HoYo FEST di Pondok Indah Mall 3, Jakarta.
Menurut Irene, optimalisasi IP internasional yang dipadukan dengan keahlian talenta lokal mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi ekosistem ekonomi kreatif. Kemitraan ini tidak hanya membuka peluang komersialisasi produk, tetapi juga meningkatkan daya saing subsektor kriya, ilustrasi, dan desain grafis di kancah global.
Ajang tersebut melibatkan puluhan pegiat ekonomi kreatif tanah air yang memproduksi merchandise dan karya kriya berbasis karakter gim populer HoYoverse. Menariknya, para kreator tetap memegang hak kepemilikan penuh atas produk yang mereka pasarkan, sebuah skema yang dinilai sangat menguntungkan bagi pelaku industri kreatif lokal sebagai penerima manfaat ekonomi utama.
Associate Brand Director HoYoverse Indonesia, Aswin Atonie, mengungkapkan bahwa festival ini telah menarik lebih dari 9.500 pengunjung dengan menghadirkan 50 stan yang diisi oleh 71 pelaku ekonomi kreatif. Kehadiran perwakilan pemerintah diharapkan menjadi pemantik kolaborasi heksaheliks yang melibatkan industri, komunitas, akademisi, dan regulator secara berkelanjutan.
Selain memamerkan produk lokal melalui area khusus Artist Alley, festival ini juga menjadi ruang interaksi interaktif bagi komunitas pencinta gim dan kreator. Kemenekraf berharap model kolaborasi lintas batas ini dapat direplikasi pada berbagai IP internasional lainnya untuk memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif di Asia Tenggara.