PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menorehkan pencapaian impresif pada paruh pertama tahun 2026. Di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan serta fluktuasi ekonomi global, bank pelat merah ini sukses menjaga tren pertumbuhan yang sehat dengan menopang pilar transformasi digital dan penguatan kualitas aset.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengungkapkan bahwa kinerja positif ini berjalan selaras dengan peta jalan transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan Danantara Indonesia. Strategi ini memprioritaskan tata kelola profesional dan penciptaan nilai jangka panjang melalui alokasi sumber daya pada sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi.

Selama enam bulan pertama tahun ini, BNI berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp968,5 triliun, melonjak 24,4 persen secara tahunan (year-on-year). Ekspansi yang terdiversifikasi di berbagai segmen bisnis ini mengantarkan perseroan meraih laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tertinggi sepanjang sejarah semester pertama sebesar Rp18,5 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp10,8 triliun.

Transformasi teknologi menjadi salah satu pendorong utama akselerasi bisnis BNI. Aplikasi ritel wondr by BNI kini mencatatkan 15,1 juta pengguna atau tumbuh pesat 110 persen secara tahunan. Sementara itu, platform wholesale BNIdirect juga menunjukkan performa gemilang dengan melayani 280 ribu pengguna dan membukukan volume transaksi hingga Rp6,039 triliun.

Direktur Keuangan dan Strategi BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menambahkan bahwa ketahanan dana pihak ketiga tetap terjaga dengan pertumbuhan CASA sebesar 11,2 persen, yang mempertahankan rasio dana murah di angka 65,4 persen. Di sisi lain, BNI berhasil memangkas biaya dana (cost of fund) menjadi 2,56 persen, turun dari 2,78 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Keberhasilan ekspansi kredit ini diimbangi dengan perbaikan kualitas aset yang signifikan. Rasio Loan at Risk (LAR) BNI menyusut dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) ditekan di level 1,9 persen. Direktur Manajemen Risiko BNI, David Pirzada, menegaskan bahwa penerapan sistem peringatan dini dan analisis kelayakan debitur yang ketat menjadi kunci dalam mitigasi risiko ini.

Selain digitalisasi, BNI juga mengoptimalkan jaringan fisiknya lewat program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE). Program ini memposisikan kantor cabang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal guna membangun ekosistem bisnis daerah yang lebih solid secara berkelanjutan.