Kesadaran akan tantangan mendidik anak di era digital mendorong Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk "Ngaji Parenting". Berlangsung di Masjid Khoirul Ihsan, Kota Pontianak, program ini menyoroti pentingnya pembatasan penggunaan gawai demi menjaga tumbuh kembang karakter anak yang mulia.
Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto, menegaskan bahwa keberhasilan pembentukan karakter generasi penerus sangat bergantung pada peran aktif orang tua. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, gawai memang menawarkan kemudahan, namun di sisi lain menyimpan ancaman besar jika tidak diimbangi dengan kontrol yang tepat. Menurutnya, teknologi tidak perlu dijauhi sepenuhnya, melainkan harus dikendalikan melalui batasan, pendampingan, serta keteladanan dari orang tua.
Susanto juga mengingatkan agar para orang tua tidak membiarkan gawai mengambil alih fungsi pengasuhan anak. Komitmen LDII dalam membina karakter generasi muda sejak dini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang krusial untuk memastikan ketahanan moral dan keberlangsungan bangsa di masa depan.
Senada dengan hal tersebut, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, Riszky Ramadhan, memaparkan data bahwa kelompok remaja mendominasi akses internet di Indonesia dengan durasi mencapai 7 hingga 8 jam per hari. Tingginya intensitas ini memicu berbagai masalah serius, mulai dari keterlambatan bicara (speech delay) pada balita, depresi akibat perundungan siber pada remaja, hingga fenomena gangguan saraf seperti "TikTok ticks".
Sebagai langkah solutif, Riszky menyarankan penerapan pola asuh otoritatif yang mengedepankan pendekatan demokratis dan komunikatif. Orang tua diharapkan mampu membuat aturan tegas namun logis, yang disampaikan dengan kasih sayang serta ruang diskusi yang terbuka. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya metode detoksifikasi gawai sesuai usia anak serta kehadiran emosional orang tua secara utuh guna menumbuhkan kemandirian anak.