Tingginya tekanan ekonomi dan stagnasi pendapatan masyarakat mendorong pergeseran pola konsumsi pangan sehari-hari. Fenomena ini terlihat jelas di kawasan Kendangsari, Kota Surabaya, di mana bisnis kuliner jalanan berupa nasi bungkus seharga Rp7.000 tumbuh subur menjadi alternatif utama bagi para pekerja untuk bertahan hidup.
Secara psikologis, harga Rp7.000 dinilai sebagai titik temu yang ideal bagi konsumen di tengah krisis. Dibandingkan dengan harga Rp5.000 yang sering kali diragukan porsi dan kelayakannya, atau Rp10.000 yang menyisakan sedikit ruang untuk membeli minuman, nominal Rp7.000 memberikan keseimbangan porsi lauk-pauk yang mengenyangkan sekaligus menghemat pengeluaran harian.
Meskipun dijual dengan harga miring, analisis finansial sektor informal ini menunjukkan potensi keuntungan yang menjanjikan. Dengan biaya produksi berkisar antara Rp4.000 hingga Rp5.000 per porsi—mencakup komponen nasi, lauk pauk, sambal, serta kemasan—pelaku usaha diperkirakan dapat mengantongi margin laba bersih sekitar Rp2.000 hingga Rp2.500 per bungkus.
Jika sebuah lapak mampu menjual rata-rata 200 hingga 250 porsi setiap harinya, laba bersih yang dihasilkan bisa mencapai Rp500.000 per hari, atau setara dengan belasan juta rupiah per bulan. Skala operasionalnya pun tergolong efisien dan fleksibel, karena umumnya hanya memanfaatkan kendaraan pribadi, peralatan portabel, dan beroperasi selama beberapa jam pada pagi hari.
Segmentasi pasar kuliner murah ini juga kian meluas seiring melemahnya daya beli. Pelanggan kini tidak lagi didominasi oleh kurir logistik atau buruh pabrik, melainkan merambah ke pekerja kantoran hingga pengendara mobil pribadi. Nasi bungkus murah ini tidak hanya menjadi penyelamat perut yang lapar, tetapi juga menjadi bukti resiliensi sektor ekonomi mikro di tengah ketidakpastian pasar.