Sering buang gas atau kentut kerap membuat seseorang merasa tidak nyaman, bahkan khawatir mengalami gangguan kesehatan. Namun, para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak selalu menandakan penyakit, karena produksi gas di saluran cerna dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari jenis makanan hingga kebiasaan sehari-hari.
Ahli gizi Amanda Sauceda menjelaskan, pola makan menjadi salah satu faktor paling dominan dalam menentukan banyak atau sedikitnya gas yang terbentuk di dalam tubuh. Salah satu pemicunya adalah serat, komponen makanan yang dikenal penting bagi kesehatan pencernaan, tetapi juga dapat meningkatkan produksi gas.
Menurut Sauceda, serat termasuk jenis karbohidrat yang tidak dapat dicerna sepenuhnya oleh tubuh. Setelah melewati saluran pencernaan bagian atas, serat akan sampai ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri usus. Dari proses fermentasi inilah gas terbentuk, sehingga seseorang bisa lebih sering kentut setelah mengonsumsi makanan tinggi serat.
Meski demikian, peningkatan frekuensi kentut akibat konsumsi serat umumnya bersifat sementara. Tubuh biasanya memerlukan waktu untuk beradaptasi, terutama ketika seseorang baru mulai memperbanyak asupan sayur, buah, biji-bijian, atau sumber serat lainnya.
Karena itu, Sauceda menyarankan masyarakat tidak menaikkan konsumsi serat secara mendadak. Penambahan serat sebaiknya dilakukan bertahap agar sistem pencernaan memiliki waktu menyesuaikan diri dan risiko perut kembung dapat berkurang.
Selain faktor makanan, kebiasaan saat makan juga dapat memengaruhi jumlah gas di saluran pencernaan. Ahli gastroenterologi dari Atlantic Coast Gastroenterology Associates, Sandhya Shukla, menyebut udara yang tertelan ketika makan atau minum dapat memperbesar volume gas dalam usus.
Kebiasaan seperti makan terlalu cepat, mengunyah permen karet, mengonsumsi minuman berkarbonasi, atau makan dengan mulut terbuka dapat membuat lebih banyak udara masuk ke saluran cerna. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami perut kembung dan lebih sering buang gas.
Shukla juga mengingatkan bahwa gas usus berlebihan dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, antara lain infeksi pertumbuhan bakteri berlebih di usus kecil atau SIBO, intoleransi laktosa, penyakit celiac, sembelit, hingga gangguan pergerakan usus yang dapat ditemukan pada penderita diabetes.
Secara umum, kentut merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan gas yang terus terbentuk selama proses pencernaan. Pada orang dewasa sehat, frekuensi buang gas umumnya berkisar 10 hingga 20 kali sehari, dengan volume gas sekitar 500 sampai 1.500 mililiter per hari.
Sejumlah rujukan medis menyebut kentut lebih dari 20 kali sehari dapat mulai dikategorikan berlebihan. Sementara itu, Sauceda menilai frekuensi di atas 25 kali dalam sehari perlu mendapat perhatian, terutama bila disertai keluhan lain.
Para ahli menekankan bahwa jumlah kentut bukan satu-satunya ukuran kesehatan pencernaan. Perubahan bau yang sangat menyengat, nyeri perut, kembung berkepanjangan, diare, atau sembelit sebaiknya tidak diabaikan.
Apabila keluhan tersebut muncul bersamaan dengan peningkatan frekuensi kentut, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah kondisi itu masih tergolong normal atau berkaitan dengan gangguan pencernaan tertentu.