Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) berkolaborasi dengan Center for Quality, Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia menyelenggarakan webinar bertajuk “Situasi Boleh Krisis, tetapi Bisnis Harus Mampu Bertahan”. Langkah ini diambil untuk membekali para pelaku usaha di bawah naungan Muhammadiyah agar memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Pendiri CQRS Indonesia, Yuliasman Chaniago, bertindak sebagai pembicara utama dalam forum tersebut. Ia menekankan pentingnya membedakan antara manajemen risiko konvensional dengan Business Continuity Management (BCM). Jika manajemen risiko berfokus pada pencegahan ancaman, BCM berorientasi pada menjaga agar fungsi vital perusahaan tetap beroperasi saat krisis atau gangguan benar-benar terjadi.

Yuliasman menjelaskan bahwa kecepatan dalam merespons krisis jauh lebih krusial dibandingkan menunggu keputusan yang sempurna namun terlambat. Kecepatan tindakan dalam waktu 30 menit pertama dinilai lebih efektif untuk mengendalikan situasi darurat daripada langkah mitigasi ideal yang baru diambil beberapa jam setelah kejadian.

Dalam membangun ketahanan organisasi, pembagian peran yang jelas mutlak diperlukan. Unit bisnis harus bertindak sebagai pemilik risiko secara langsung, sementara fungsi manajemen kelangsungan usaha di tingkat korporasi menyediakan metodologi acuan. Bagi perusahaan berskala besar, penerapan model hibrida direkomendasikan agar koordinasi terpusat tetap sejalan dengan eksekusi di tingkat unit.

Analisis dampak bisnis atau Business Impact Analysis (BIA) juga menjadi sorotan penting. Melalui metode ini, manajemen dapat memetakan proses kritis organisasi serta menentukan Recovery Time Objective (RTO), yakni batas waktu toleransi kerugian sebelum operasional kembali dipulihkan secara normal.

Program ini diselenggarakan melalui SUMU Catalyst sebagai komitmen berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas pengusaha Muhammadiyah. Diharapkan, pemahaman mengenai manajemen kelangsungan usaha ini tidak hanya berhenti di atas kertas dokumen formal, melainkan terintegrasi secara mendalam menjadi bagian dari budaya kerja organisasi.