Setelah menghilang selama lebih dari dua dekade dari panggung hiburan, nama aktris legendaris Joey Wong kembali menjadi sorotan publik. Namun, kemunculannya kali ini bukan melalui proyek film layar lebar terbaru, melainkan lewat rekayasa digital kecerdasan buatan (AI) dalam sebuah permainan video bertajuk Tianxia yang dikembangkan oleh raksasa teknologi NetEase.
Proyek kolaborasi ini menandai langkah bersejarah di industri hiburan dan gim. Mantan bintang asal Taiwan tersebut secara resmi memberikan izin komersial penuh agar wajah masa mudanya direkonstruksi menggunakan teknologi AI. Sebagai bagian dari promosi, NetEase merilis film pendek bertajuk Qian Ying yang menampilkan kembali pesona masa jaya Joey Wong saat berusia 20-an hingga 30-an tahun.
Salah satu penampilan ikonik yang dihidupkan kembali adalah karakter Nie Xiaoqian dari film romansa supranatural klasik A Chinese Ghost Story (1987). Tak sekadar muncul dalam video promosi, replika digital sang aktris juga akan diintegrasikan sebagai karakter non-pemain (NPC) di dalam gim. Para pemain bahkan berkesempatan mendapatkan kostum eksklusif bertema Qian Ying You Hun secara gratis.
Keputusan ini dinilai sebagai preseden penting di industri gim Asia, mengingat Joey Wong merupakan salah satu bintang besar pertama dari perfilman Hong Kong yang memberikan lisensi penuh atas hak wajah digitalnya. Sebagai informasi, aktris yang kini menetap di Kanada ini telah memutuskan pensiun dari dunia akting sejak tahun 2004 setelah membintangi film Shanghai Story.
Kehadiran kembali Joey Wong versi digital ini langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar dan warganet. Kelompok yang mendukung menilai teknologi ini menjadi solusi positif bagi aktor senior untuk tetap mendapatkan royalti dan menyapa penggemar tanpa harus mengorbankan privasi mereka di masa pensiun.
Sebaliknya, kelompok yang skeptis berpendapat bahwa teknologi AI hanya mampu meniru penampilan fisik luar saja tanpa bisa mentransfer karisma, keanggunan, serta ekspresi emosional yang mendalam dari sang aktris. Fenomena ini pun membuka ruang diskusi baru mengenai etika penggunaan wajah digital, batasan nostalgia, dan masa depan industri kreatif di era kecerdasan buatan.