Upaya global dalam mengatasi krisis iklim masih membentur tembok tebal akibat ketidaksepakatan terkait hak kekayaan intelektual (paten) teknologi ramah lingkungan. Ego sektoral antara blok negara maju dan berkembang dituding menjadi batu sandungan utama yang memperlambat laju transfer teknologi bersih di tingkat internasional.

Isu krusial ini mengemuka dalam konferensi internasional UMY Graduate Conference (UMYGrace) 2026 yang berlangsung di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hadir sebagai pembicara utama, Associate Professor dari University of the Western Cape, Afrika Selatan, Desmond Osaretin Oriakhogba, Ph.D., memaparkan disintegrasi pandangan global tersebut.

Menurut Desmond, negosiasi internasional berjalan lambat karena terbagi dalam tiga kubu kepentingan. Negara-negara maju bersikeras menuntut perlindungan paten yang sangat ketat demi melindungi investasi teknologi bersih yang mereka ciptakan. Sebaliknya, negara berkembang mengeluhkan minimnya akses finansial dan tingginya biaya lisensi untuk mengadopsi teknologi tersebut. Sementara itu, kelompok negara miskin mendesak agar seluruh inovasi ramah lingkungan dibagikan secara cuma-cuma demi kedaruratan iklim bumi.

Akibat kebuntuan ini, organisasi multilateral seperti World Trade Organization (WTO) belum mampu merumuskan kebijakan yang solutif bagi negara-negara yang rentan terdampak dampak perubahan iklim. Di sisi lain, lembaga dunia seperti UNFCCC dan WIPO sejauh ini dinilai baru sebatas memfasilitasi kolaborasi riset tanpa menyentuh akar permasalahan, yakni penurunan biaya akses teknologi bagi masyarakat luas.

Melihat lambatnya konsensus global, beberapa wilayah mulai mengambil langkah mandiri. Benua Afrika, misalnya, tengah menyusun kerangka regulasi internal agar teknologi hijau lebih mudah diadopsi sesuai kebutuhan lokal. Melalui platform akademik seperti UMYGrace, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berkomitmen terus mendorong lahirnya gagasan strategis yang mampu menjembatani kesenjangan teknologi ini demi masa depan bumi yang berkelanjutan.