Setelah melewati periode ketidakpastian akibat gangguan rantai pasok global, sektor manufaktur tekstil dan garmen di Vietnam kini mencatatkan pemulihan yang signifikan. Aktivitas produksi yang sebelumnya sempat terhambat oleh lonjakan biaya logistik, kini kembali bergairah seiring dengan stabilnya tarif pengiriman dan meningkatnya permintaan ekspor internasional.
Tren positif ini memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan tenaga kerja, di mana intensitas produksi yang tinggi—bahkan di luar musim puncak ekspor—berhasil meningkatkan pendapatan para pekerja secara nyata. Penurunan harga bahan baku pendukung seperti kemasan, yang merosot hingga 25 persen, turut berkontribusi dalam menekan biaya produksi dan memperkuat daya saing perusahaan di pasar global.
Tidak hanya terbatas pada industri garmen, sektor alas kaki juga menunjukkan performa serupa berkat strategi diversifikasi pasar dan peningkatan penggunaan bahan baku domestik. Sejumlah pabrik kini justru tengah melakukan perekrutan tenaga kerja baru guna mengimbangi volume pesanan yang terus membanjir hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
Meski prospek bisnis terlihat cerah, para pelaku industri tetap diingatkan untuk mewaspadai potensi hambatan dari kebijakan tarif mitra dagang di masa depan. Wakil Presiden Kamar Dagang dan Industri Vietnam (VCCI), Hoang Quang Phong, menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk tetap memantau dinamika pasar global sembari fokus pada peningkatan kualitas produk guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan.
Di sisi lain, penguatan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat menjadi katalis penting bagi masa depan ekonomi Vietnam. Dalam peringatan hari kemerdekaan AS, pemerintah Vietnam menegaskan komitmennya untuk mempererat kemitraan strategis, khususnya dalam sektor perdagangan, inovasi digital, dan transfer teknologi, sebagai langkah strategis untuk membuka lembaran baru dalam kerja sama ekonomi antar kedua negara.