Sektor properti tengah menghadapi dinamika yang kontradiktif sepanjang paruh pertama tahun 2026. Di satu sisi, aliran Investasi Asing Langsung (FDI) terus membanjiri industri ini, menempatkannya sebagai salah satu destinasi modal paling atraktif. Namun di sisi lain, sektor ini mencatatkan gelombang penutupan usaha yang signifikan, menandakan adanya proses seleksi alam yang intensif di tengah pasar yang menantang.

Berdasarkan laporan terbaru dari Kantor Statistik Umum, sebanyak 1.463 perusahaan properti terpaksa menghentikan operasional mereka secara permanen selama enam bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut mencerminkan lonjakan tajam sebesar 120,3% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain penutupan, ribuan bisnis lainnya juga tercatat melakukan penangguhan operasional sementara, yang mengindikasikan tekanan arus kas dan keterbatasan pasokan di kalangan pelaku usaha berskala kecil dan menengah.

Meskipun demikian, sektor ini masih menunjukkan optimisme bagi investor global. Realisasi FDI di sektor properti berhasil mencapai US$5,1 miliar pada semester pertama, menempati posisi kedua setelah industri manufaktur. Para investor asing tampak menerapkan strategi jangka panjang dengan bertaruh pada potensi pertumbuhan ekonomi serta akselerasi urbanisasi di Vietnam dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi ini bertolak belakang dengan sikap konsumen domestik yang masih berada dalam fase wait and see. Data survei menunjukkan adanya penurunan minat beli masyarakat, dengan hanya 17% responden yang berniat melakukan pembelian properti dalam enam bulan ke depan. Sebagian besar calon pembeli memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut, terutama di tengah tanda-tanda koreksi harga di sejumlah wilayah utama seperti Hanoi dan beberapa daerah penyangga lainnya.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa kesenjangan antara besarnya modal asing dan rendahnya serapan pasar domestik merupakan cerminan dari perbedaan perspektif. Jika investor asing fokus pada visi jangka panjang, masyarakat lokal saat ini lebih sensitif terhadap fluktuasi suku bunga, keterjangkauan harga, serta ekspektasi penyesuaian pasar yang lebih stabil di masa depan.