Inovasi di industri kecantikan kini tidak lagi sebatas mengikuti tren pasar atau menawarkan hasil cepat. Pengembangan produk semakin diarahkan pada pendekatan ilmiah, pemanfaatan teknologi, serta pengujian keamanan yang ketat agar mampu menjawab kebutuhan konsumen secara lebih tepat.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu fondasi yang dijalankan L'Oréal Groupe dalam mengembangkan berbagai kategori produk, mulai dari perawatan kulit, tata rias, perawatan rambut, hingga wewangian. Perusahaan menempatkan riset jangka panjang dan evaluasi produk sebagai bagian penting sebelum sebuah inovasi sampai ke tangan konsumen.
Head of Research & Innovation L'Oréal Indonesia, Akash Tiwari, mengatakan bahwa sains dan inovasi telah menjadi pusat pengembangan produk L'Oréal sejak perusahaan berdiri 117 tahun lalu. Menurut dia, ribuan ilmuwan dari berbagai negara dan disiplin keilmuan terlibat untuk memahami kebutuhan konsumen serta memastikan efektivitas produk.
Hal itu disampaikan Akash dalam acara L'Oréal Groupe x Shopee House of Beauty Media Exclusive Tour Inside House of Beauty: Story of Beauty and Innovation di Park Hyatt Jakarta, baru-baru ini. Ia menegaskan, inovasi dilakukan untuk memahami karakter kulit, rambut, serta preferensi konsumen yang terus berubah dari waktu ke waktu.
Selain efektivitas, aspek keamanan dan kualitas disebut menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan pengembangan. Proses tersebut dimulai dari penelitian bahan baku, penyusunan formula, hingga evaluasi sebelum produk digunakan secara luas oleh konsumen.
Salah satu contoh penerapan teknologi dalam pengujian keamanan adalah EPISKIN, metode uji tanpa hewan yang memungkinkan rekonstruksi kulit manusia di laboratorium. Teknologi ini digunakan untuk membantu evaluasi keamanan produk secara lebih akurat sekaligus etis.
Secara global, L'Oréal menyebut telah melakukan lebih dari 44.000 evaluasi keamanan pada manusia dan 40.000 uji stabilitas setiap tahun. Di Indonesia, upaya tersebut diperkuat melalui Evaluation Intelligence Center yang telah hadir sejak 2012 sebagai bagian dari jaringan riset dan inovasi global perusahaan.
Melalui pusat evaluasi tersebut, L'Oréal menghimpun masukan dari puluhan ribu konsumen setiap tahun. Data itu digunakan untuk memahami kebutuhan, karakteristik kulit dan rambut, serta perubahan preferensi konsumen Indonesia.
Salah satu perhatian riset perusahaan di Indonesia adalah persoalan pigmentasi kulit. Berdasarkan studi internal L'Oréal, 73 persen konsumen Indonesia menyatakan kekhawatiran terhadap masalah pigmentasi, seperti hiperpigmentasi, bekas jerawat, flek hitam, warna kulit tidak merata, hingga melasma.