SURABAYA — Merek kuliner ternama asal Surabaya, Mie Mapan, menandai perjalanan 34 tahun kiprahnya di industri makanan dan minuman dengan langkah strategis yang mencerminkan semangat transformasi. Bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun ke-34, perusahaan ini meresmikan kembali outlet Barata Jaya dengan tampilan yang lebih modern sekaligus memperkenalkan lini bisnis terbaru bernama 58 Coffee kepada publik.

Peresmian ulang gerai tersebut menghadirkan konsep baru yang lebih nyaman dan kontemporer, dirancang untuk memberikan pengalaman bersantap yang lebih berkualitas bagi pelanggan. Sementara itu, kehadiran 58 Coffee menjadi respons perusahaan terhadap pergeseran gaya hidup masyarakat urban yang menginginkan perpaduan kuliner berkualitas dengan pengalaman menikmati kopi dalam satu tempat.

Selama lebih dari tiga dekade, Mie Mapan bertransformasi dari usaha kuliner lokal menjadi salah satu merek yang dikenal luas di Jawa Timur. Konsistensi menjaga mutu produk, pelayanan prima, serta kedekatan dengan pelanggan menjadi pilar utama yang menopang pertumbuhan perusahaan hingga mampu memperluas jangkauan ke berbagai wilayah.

Roda operasional perusahaan saat ini dinahkodai oleh William Christian sebagai General Manager Operasional. Di bawah kepemimpinannya, Mie Mapan terus mendorong penguatan sistem operasional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta inovasi model bisnis agar tetap kompetitif di tengah dinamika industri kuliner yang terus bergerak cepat.

Dalam ajang perayaan tersebut, Associate Professor Dr. Eric Harianto dari Universitas Ciputra Surabaya yang juga menjabat sebagai Deputi Ekspor KADIN Jawa Timur dan Kurator Kementerian UMKM, menyampaikan keynote sharing bertajuk pentingnya membangun Entrepreneurial Business Ecosystem. Ia memaparkan bahwa keberhasilan perusahaan di era kontemporer tidak lagi semata bergantung pada kualitas produk atau kekuatan modal, melainkan pada kemampuan membangun ekosistem bisnis yang terintegrasi secara menyeluruh.

Dr. Eric menekankan relevansi pendekatan Ekosistem Hexahelix sebagai model kolaborasi yang mengintegrasikan enam pilar utama, yakni pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, media, serta lembaga keuangan dan investor. Menurutnya, keenam elemen tersebut saling memperkuat dalam menciptakan inovasi, memperluas akses pasar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Perusahaan tidak cukup hanya memiliki produk yang baik. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membangun ekosistem bisnis yang kuat melalui kolaborasi. Ekosistem Hexahelix memungkinkan inovasi berkembang lebih cepat, membuka akses pembiayaan, memperluas jaringan pemasaran, hingga mempercepat penetrasi pasar nasional maupun internasional," tegas Dr. Eric Harianto.

Akademisi tersebut juga menyoroti peran William Christian yang dinilai berhasil menghadirkan budaya pembelajaran berkelanjutan dalam mengelola perusahaan. Selain memimpin operasional Mie Mapan, William tercatat sebagai mahasiswa Program Magister Manajemen di Universitas Ciputra Surabaya, yang secara aktif memadukan pengetahuan akademik dengan praktik nyata pengembangan bisnis.

"Inilah esensi pendidikan kewirausahaan. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi dunia usaha dalam menciptakan inovasi. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan pengalaman industri, maka akan lahir entrepreneur yang mampu membawa UMKM Indonesia naik kelas menuju perusahaan berdaya saing global," imbuh Dr. Eric.

Perayaan HUT ke-34 ini menjadi lebih dari sekadar tonggak usia perusahaan. Momentum tersebut merepresentasikan tekad Mie Mapan untuk terus berinovasi, memperkuat jejaring kolaborasi, dan membangun ekosistem bisnis yang memberikan dampak positif bagi pelanggan, mitra usaha, karyawan, maupun masyarakat luas. Perjalanan panjang selama tiga dekade lebih ini diharapkan mampu menginspirasi pelaku UMKM di seluruh Indonesia bahwa keberhasilan bisnis dibangun melalui keberanian belajar, berinovasi, dan berkolaborasi secara berkelanjutan.