Badan PBB untuk urusan perdagangan dan pembangunan, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), memproyeksikan adanya pergeseran besar dalam dinamika permintaan mineral kritis global. Sektor teknologi bersih diperkirakan akan mengambil alih porsi permintaan yang jauh lebih besar dalam beberapa dekade mendatang.
Dalam laporan Global Trade Update edisi Juni 2026, UNCTAD menyatakan bahwa mineral transisi energi kritis seperti litium, kobalt, nikel, tembaga, dan tanah jarang merupakan komponen vital. Mineral-mineral ini menjadi tulang punggung untuk mendukung teknologi energi terbarukan, penyimpanan baterai, dan kendaraan listrik.
Tren ini semakin diperkuat oleh pertumbuhan sektor-sektor strategis lainnya. Di antaranya adalah gelombang digitalisasi yang mencakup pusat data dan semikonduktor, serta kebutuhan akan energi untuk pertahanan, kedirgantaraan, dan elektrifikasi industri secara luas. Kondisi ini menciptakan tekanan permintaan mineral yang terus-menerus.
Menurut analisis UNCTAD, dominasi teknologi bersih dalam pemenuhan kebutuhan mineral kritis akan semakin mencolok. Untuk litium, pangsa permintaan dari sektor ini diproyeksikan melonjak drastis dari 62% pada 2024 menjadi 87% pada tahun 2040.
Polanya juga terlihat pada mineral grafit, di mana pangsa teknologi bersih dalam permintaan global diestimasikan naik dari 32% pada 2024 menjadi 52% pada 2040. Peningkatan signifikan juga diprediksi terjadi pada nikel, dengan pangsa yang diperkirakan meningkat dari 17% pada 2024 menjadi 42% pada 2040.