Memasuki paruh kedua 2026, pelaku pasar modal Indonesia mulai menaruh harapan pada pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang selama enam bulan pertama mengalami tekanan signifikan. Sejumlah analis memproyeksikan IHSG berpotensi mengalami reli secara bertahap, dengan target pencapaian di kisaran level 7.000 hingga 7.250 pada semester II/2026.
Optimisme tersebut muncul setelah IHSG mencatatkan koreksi tajam sebesar 31,81% secara year-to-date (YtD) hingga perdagangan Jumat (26/6/2026), berdasarkan data yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan indeks yang berlangsung cukup dalam ini turut diiringi oleh keluarnya dana investor asing dari pasar modal domestik yang mencapai Rp71,68 triliun sepanjang periode tersebut.
Namun demikian, tekanan berkepanjangan justru membawa peluang tersendiri bagi pasar saham Indonesia. Valuasi saham-saham berkapitalisasi besar maupun menengah kini dinilai telah berada pada level yang relatif murah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor, baik domestik maupun asing, untuk kembali masuk ke pasar.
Sejumlah faktor dipandang menjadi katalis utama yang mampu mendorong pemulihan IHSG di semester kedua ini. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu elemen krusial yang diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor global terhadap aset-aset berdenominasi rupiah. Penguatan mata uang domestik berpotensi memicu kembalinya arus modal asing (capital inflow) ke pasar saham Indonesia.
Selain itu, prospek kembalinya dana asing ke bursa domestik turut menjadi sentimen positif yang dinantikan oleh para pelaku pasar. Setelah mengalami arus keluar yang masif sepanjang semester pertama, potensi pembalikan arah (reversal) arus dana tersebut dapat menjadi pendorong signifikan bagi penguatan indeks dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, para analis tetap menggarisbawahi bahwa pergerakan IHSG menuju target tersebut akan berlangsung secara gradual, bukan dalam bentuk lonjakan tajam. Sejumlah risiko global seperti ketidakpastian kebijakan moneter negara-negara maju, dinamika geopolitik, serta kondisi perekonomian dunia masih perlu dicermati sebagai faktor yang dapat memengaruhi arah pasar modal Indonesia di sisa tahun 2026.