Pembangunan megaproyek Pakuwon Mall di kawasan Gombel Lama, Kota Semarang, kini menuai sorotan negatif dari masyarakat sekitar. Aktivitas konstruksi yang berlangsung hampir sepanjang hari dinilai telah mengganggu kenyamanan, kesehatan, serta keamanan warga yang bermukim di sekitar lokasi pembangunan tersebut.
Salah seorang warga setempat, Candra, mengungkapkan bahwa intensitas pekerjaan proyek, termasuk pengeboran dan pengoperasian truk pengaduk semen (molen), kerap berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga melewati tengah malam sekitar pukul 01.00 WIB. Pola kerja yang melebihi batas waktu wajar ini berdampak buruk pada kualitas tidur dan waktu istirahat warga.
Selain masalah kebisingan, warga juga mengeluhkan getaran kuat yang ditimbulkan oleh alat berat saat proses pengeboran pada malam hari. Getaran tersebut tidak hanya memicu kecemasan karena efeknya yang menyerupai gempa bumi skala kecil, tetapi juga mulai merusak fisik bangunan rumah warga, seperti dinding yang retak dan plesteran semen yang mengelupas.
Dampak lingkungan lain yang dirasakan langsung oleh warga adalah tingginya paparan debu akibat mobilitas kendaraan berat yang keluar masuk area proyek tanpa henti. Polusi udara harian ini dilaporkan mulai memicu gangguan kesehatan pernapasan pada masyarakat sekitar, seperti batuk dan sesak napas.
Atas berbagai persoalan tersebut, warga mempertanyakan komitmen pengembang terkait aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya perlindungan terhadap lingkungan sosial di sekeliling proyek. Warga menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan, namun menuntut agar pihak manajemen proyek mengevaluasi jam operasional serta meminimalkan dampak buruk demi menjaga keharmonisan dengan masyarakat lokal.