Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan kebijakan strategis terkait ketahanan energi nasional dengan menyetop seluruh impor solar mulai bulan ini. Langkah ini diambil setelah pemerintah sukses meluncurkan bahan bakar nabati jenis B50, yang terdiri dari 50 persen campuran kelapa sawit produksi dalam negeri.
Dalam sambutannya pada peringatan Hari Koperasi di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/6/2026), Presiden menegaskan bahwa ketergantungan terhadap pasokan solar luar negeri telah berakhir. Ia menekankan bahwa pemanfaatan sumber daya domestik, khususnya kelapa sawit, menjadi kunci utama dalam langkah transformatif ini.
Lebih lanjut, Presiden mengungkapkan bahwa jajaran ilmuwan dalam negeri tengah mengintensifkan riset untuk menciptakan bahan bakar minyak (BBM) dari berbagai komoditas pertanian lainnya. Pengembangan bensin berbahan kelapa sawit serta etanol dari singkong, jagung, dan sorgum kini menjadi prioritas untuk menekan ketergantungan pada energi fosil.
"Kami menargetkan dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan, Indonesia sudah mampu memproduksi bensin berbasis tanaman secara masif," ujar Prabowo. Inovasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat kedaulatan energi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi kesejahteraan petani di seluruh pelosok tanah air.
Selain keberhasilan di sektor energi, Presiden juga menyoroti pencapaian swasembada pangan yang terealisasi dalam tahun pertama masa pemerintahannya. Menurutnya, keberhasilan menghentikan impor pangan dan beralih menjadi negara pengekspor merupakan bukti nyata dari efektivitas kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah saat ini.